Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gugup; Kesuksesan yang Terenggut

Richard merupakan seorang Salesman Mobil di perusaan otomotif terbesar di Indonesia. Keuletannya mengantarkan Dia menjadi seorang karyawan yang berprestasi. Target setiap bulannya telah Ia lampaui dengan baik, sehingga bonus bulanan dan kepercayaan atasan Dia dapatkan dengan baik. Richard merupakan seorang kawan yang baik, banyak teman-temannya atau karyawan baru belajar banyak mengenai pemasaran mobil kepadanya. Ia berikan ilmu pemasaran mobil kepada yang membutuhkan dengan baik dan tanpa pamrih, sehingga banyak teman-temannya berhasil mengikuti jejak Dia. 

Richard terlahir dari keluarga yang sederhana yang berasal dari kampung, sejak kecil Dia sudah belajar membantu orang tua untuk menambah pendapatan dengan cara berjualan. Richard kecil harus menahan keinginan seperti anak lain seusianya yang memiliki sarana dan fasilitas memadai. Kesederhanaan dan kerja keras hidup di kampung menempanya untuk hidup lebih mandiri dan lebih maju dari teman-temannya di kampung. Dukungan orang tuapun mengalir deras bagi Dia agar bisa merubah hidup dan masa depan yang lebih baik lagi.

Sumber: www.dynamicsnyc.com

Richard sekolah dan belajar sungguh-sungguh walaupun kesibukan membantu orang tua mengisi hari-harinya. Tahap demi tahap pendidikan Ia lewati dengan baik, prestasinya terbilang baik sekalipun tidak menjadi juara kelas akan tetapi beasiswa selalu ia dapatkan mulai dari SD sampai SMA. Pada akhirnya Richard harus dihadapkan pada pilihan yang sulit antara bekerja dan kuliah. Hal ini begitu sulit karena sudah tidak ada lagi beasiswa dan orang tua melepas sepenuhnya biaya sekolah yang selama ini Ia dapatkan. 

Karena keinginan yang sangat kuat untuk maju, Richard memutuskan untuk bekerja. Akhirnya Dia pergi dari kampung berangkat ke Jakarta, berbekal surat lamaran dan Ijazah SMA untuk melamar pekerjaan agar bisa bertahan hidup dan membahagiakan orang tua. Rezeki pun datang, Dia dipanggil oleh salah satu Showroom Toyota untuk menjadi Office Boy (OB). Gayung bersambut, akhirnya Richard memulai hari-harinya menjadi OB dan mendapatkan pendapatan sendiri. Bulan demi bulan sisa gajinya Ia tabungkan dengan tujuan agar bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah.

Dua tahun berlalu akhirnya keinginan Richard tercapai, dia mendaftarkan diri di Universitas Terbuka. Tentunya pilihan ini sudah Dia pikirkan jauh-jauh hari baik mengenai biaya maupun fleksibilitas perkuliahan. Hari demi hari Ia lalui dengan penuh semangat, tidak ada kata lelah dalam membagi waktu sebagai karyawan dan mahasiswa. Setelah empat tahun lamanya Dia berhasil mendapatkan Ijazah Sarjana yang selama ini Ia dambakan. Dia pun sudah memiliki rencana yang lebih besar yaitu mendaftarkan diri menjadi karyawan di perusahaan yang selama ini ia bekerja. 

Lamaran telah dijatuhkan kepada pihak Showroom Toyota, tidak begitu lama menunggu akhirnya Richard dipanggil untuk mengikuti tes dan wawancara dengan pihak perusanaan. Berkat keuletan dan pengalaman kerja yang Ia dapatkan selama ini, posisi salesman akhirnya menjadi miliknya. Rochard dan keluarga sangat senang, bahkan sudah membayangkan kehidupan yang dialaminya saat ini merupakan loncatan kehidupan ke tempat yang lebih baik. 

Profesi sebagai salesman bagi Richard bukan suatu tantangan yang sulit karena Dia pernah ditempa oleh berbagai perjalanan hidup yang cukup berat. Hari-hari Ia lalui dengan baik, setiap target yang ditetapkan oleh perusahaan dicapainya dengan baik. Richard setiap tahunnya menjadi Karyawan Berprestasi. Sampai suatu ketika ada pemilihan Karyawan berprestasi skala nasional. Setiap Showroom Toyota mengirimkan seorang kandidatnya untuk berkompetisi di ajang yang bergengsi tersebut.

Pemenang Karyawan Berprestasi dari Indonesia akan dipilih sebanyak 5 orang. Perusahaan akan menyediakan fasilitas liburan ke Eropa selama seminggu dan bonus sebesar Rp. 20 juta. Proses seleksi yang dilakukan oleh perusahaan yakni dua tahap yaitu presentasi penjualan dan interview kepada manajemen. Jauh-jauh hari Richard pun mempersiapkan proses seleksi tersebut agar pada hari H pelaksanaan Dia bisa melewatinya dengan baik. Seluruh karyawan dan manajemen di tempatnya bekerja mendukung sepenuhnya, Richard untuk bisa lolos dan mengangkat nama baik perusahaan di tingkat nasional.

Ini merupakan tanggungjawab yang sangat berat bagi Richard, Dia menanamkan setiap detik-setiap menit harus menang dalam ujian tersebut. Semakin dekat kepada hari tes tersebut, tekanan dan beban yang Richard rasakan semakin berat. Mindset yang ditanamkan untuk memenangkan kesempatan itu membuatnya stres bahkan mengabaikan proses belajar dan fokus kepada kemampuannya. Hari yang ditunggu telah datang, Richard mempresentasikan strategi penjualan dan prestasinya selama ini. Dibandingkan dengan salesman yang lain, pencapaian Richard merupakan yang terbaik sehingga manajemen memutuskan Richard lolos seleksi tahap pertama.

Seleksi tahap pertama sangat sulit, hanya delapan peserta yang berhasil lolos termasuk Richard. Sedikitnya peserta yang lolos membuat Richard sangat optimis bisa lolos tes dan bisa menikmati indahnya liburan di Eropa. Tiga orang sudah melewati tes akhir, kini giliran Richard berhadapan dengan manajemen untuk diinterview mengenai seluruh kegiatan dan prestasi yang pernah Ia raih. Richard masuk ruangan interview yang luas dan dihadapannya duduk lima orang penguji. Richard dipersilahkan duduk di depan para penguji kemudian memperkenalkan diri kepada mereka.

Situasi seperti disidang merupakan hal baru bari Richard, dimana keseharian Dia terbiasa kerja dilapangan dan bekerja lebih personal. Para penguji bertanya kepadanya mulai dari latar belakang keluarga, pendidikan, dan pekerjaan. Apa yang terjadi telah dipersiapkan oleh Richard sebelumnya rasanya sulit untuk diingat karena kondisi gugup dan stres. Kadang-kadang untuk menjawab pertanyaan dari penguji butuh waktu beberapa detik untuk mencerna dan menjawabnya dengan benar, bahkan ada jawaban Richard sedikit menyimpang dari pokok bahasan.

Duduk dalam situasi tertekan seperti itu dirasakan Richard seakan-akan duduk di kursi berduri dan waktu serasa berjalan lambat. Semenit serasa sejam, satu jam serasa setahun itulah perasaan yang dialami Richard karena stres. Penantian untuk meninggalkan ruangan interviewpun akhirnya datang juga. Richard keluar dengan menundukan wajah, rasa bersalah dan pesimis terlihat dari mimik mukanya. Rekan-rekan sekantornya menyambut dengan antusias dan banyak dari mereka penasaran apa yang ditanyakan oleh manajemen kepada Richard.

Richard sambil menunggu pengumuman selama satu jam, menjawab pertanyaan dari rekan-rekan kerjanya. Richard menjelaskan kepada teman-temannya bahwa dia gugup, banyak pertanyaan yang sulit dijawab olehnya. Situasi tersebut merupakan hal baru dan pertama dalam hidupnya, sehingga kemampuan yang dimiliki tidak dapat Ia maksimalkan. Satu jam berlalu, kini saatnya pengumuman bagi mereka yang lolos mendapatkan penghargaan jalan-jalan ke Eropa dan mendapatkan bonus Rp. 20 juta.  Pengumumanpun telah ditempel di papan pengumuman, terlihatlah lima pemenang yang lolos kecuali Richard dan dua orang dari kantor lain.

Richard pun merasa sedih dan terpukul harapan dan cita-cita di depan mata kini telah sirna, akhirnya Dia pulang dengan tangan kosong dan penyesalan tidak bisa memaksimalkan kesempatan yang ada. Tidak hanya Richard, rekan-rekan sekantornyapun merasakan hal yang sama. Kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi itu kini telah diambil orang. Setelah kejadian yang dialaminya, Richard bersama rekan-rekannya menyadari betul betapa pentingnya penguasaan diri, pengembangan wawasan, kemampuan, dan fokus kepada proses bukan hasil.

Post a Comment for "Gugup; Kesuksesan yang Terenggut"

Berlangganan