Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kodok Tuli dan Bunga Abadi

Cerita dari dunia kodok, musim penghujan merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu penduduk negeri tersebut karena banyak berkah yang bisa mereka dapatkan. Musim ini merupakan kesempatan yang spesial karena akan mendapatkan berlimpah makanan dan tentunya musim kawin. Musim ini akan diisi oleh berbagai kegiatan yang menarik bagi masyarakat,  diantaranya lomba membuat sarang, lomba mengumpulkan makanan, dan kompetisi mendapatkan calon pasangan hidup bagi muda-mudi di negeri tersebut. 

Biasanya orang tua dan anak-anak sibuk menyiapkan rumah yang nyaman untuk menangkal banjir dan arus sungai. Mereka akan memilih rumah-rumah dari lubang yang ada di tebing sungai agar tidak masuk air dan terhindar dari ancaman binatang buas seperti ular dan biyawak. Para pemuda sibuk mengumpulkan makanan untuk mempersiapkan diri saat musim kemarau, biasanya makanan akan berlimpah saat petani mulai menggarap sawah. Belalang dan cacing mudah dicari karena rumput dan ilalang telah dibabat, sehingga target santapan mereka jelas terlihat dan mudah didapat.

Para gadis sudah memperiapkan diri dengan berbagai asesoris dan nyanian yang merdu untuk menarik perhatian para pemuda yang siap menikah. Begitu juda dengan para pemuada berlomba-lomba menjadi yang terbaik diantara sekian banyak pemuda kodok di daerah tersebut, mulai dari mengolah otot tubuh sampai dengan membawa kendaraan yang menarik bagi kaum hawa. Hal yang luar biasa musim ini yaitu Sang Raja memuat sayembara kepada para pemuda tangguh dan gagah berani untuk melamar gadis kesayangannya. Hal ini ia lakukan karena sudah sekian lama anaknya mengurung diri akibat menginginkan "Bunga Abadi" yang ada di puncak gunung. 

Ilustrasi, sumber: www.cybergooch.com

Sang Raja akhirnya membuka diri untuk memberikan tantangan kepada para pemuda yang ada di negerinya untuk merlomba mendapatkan bunga tersebut. Bunga Abadi merupakan bunga yang sangat sulit didapatkan karena berada dipuncak gunung tertinggi di negeri itu dan hanya tumbuh saat musim penghujan. Khasiatnya bisa mengobati berbagai penyakit dan mengabulkan setiap keinginan. Untuk mencapai ke puncak gunung tempat bunga tersebut berada sangat sulit, terjal, licin, dan banyak binatang buas yang bisa mengancam keselamatan para pendaki. 

Informasi sayembara tersebar luas di masyarakat, para pemuda dengan antusias untuk bisa memenangkan sayembara dan bisa bersanding dengan putri raja yang sangat cantik. Banyak dari mereka mempersiapkan diri untuk bisa bersaing dengan pemuda lain, mulai dari mengasah keahlian bela diri, kekuatan fisik, bahkan keindahan badan. Setiap pemuda sudah tidak sabar menunggu waktu sayembara dimulai, hampir setiap hari mereka bertukar informasi kapan dan dimana acara tersebut  dilaksanakan. Mereka berharap keberuntungan berpihak kepadanya, sehingga mereka mendapatkan gadis cantik dan kekuasaan yang diimpi-impikannya selama ini.

Tepat tengah bulan musim penghujan, kabar yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Raja telah mengumumkan dimulainya sayembara bagi para pemuda untuk mendapatkan Bunga Abadi. Raja mengumpulkan para pemuda di sebuah lapangan, Ia memberikan himbauan kepada para pemuda agar siapa saja yang berhasil membawa Bunga Abadi hidup ke istana dia akan dinikahkan dengan putrinya dan sekaligus menggantikan dirinya memimpin kerajaan. Seluruh perserta sangat antusias mendengarnya, bahkan beberapa pemuda yang berasal dari kerajaan tetangga sangat yakin dengan kemampuan dan pasukannya bisa mendapatkan bunga tersebut.

Seluruh peserta beserta mulai masuk ke hutan untuk mencari Bunga Abadi. Cara mereka berbeda-beda manun tujuannya sama mendapatkan Bunga Abagi. Bagi mereka yang berasal dari golongan masyarakat biasa berjuang sendiri sedangkan pemuda yang berasal dari keluarga kaya (kerajaan) didampingi oleh bala tentara untuk membantu dan menjaganya. Waktu berlalu tidak terasa, seminggu sayembara telah berlalu pemuda peserta pun mulai berkurang akibat kelelahan dan kecelakaam saat diperjalanan. Semula pendaftar saembara sebanyak 500 orang, kini tersisa sebanyak 200 orang. 

Gunung telah dilewati setengah jalan, 200 perseta akhirnya berkumpul di dataran tinggi yang didepannya menjulang tebing curam menghadang peserta yang akan mendaki puncak tertinggi gunung tempat Bunga Abadi tumbuh. 200 pemuda masing-masing mengatur strategi yang terbaik untuk mencapai puncak gunung tersebut, mulai dari menyusun tali, membuat tangga, bahkan ada yang langsung memanjat. Masing-masing berjuang keras untuk menaklukan tebing yang mematikan tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan sekuat tenaga, banyak pemuda yang terjatuh bahkan dengan sadar beberapa pemuda sengaja mengurungkan diri dari sayembara dan tebing maut tersebut. Namun masih tersisa 10 pemuda yang gagah berani memanjat tanpa rasa takut, mereka mulai merangkak dengan pasti melewati tebing yang sangat berbahaya tersebut. Orang yang berada dibawahnya memberikan motivasi, komando dan doa kepada mereka agar dari mereka ada yang berhasil melewati tantangan yang sangat berat tersebut. Namun saking sulitnya medan yang ditempuh satu-persatu pemuda mulai kelelahan dan sebagian ada yang terjatuh. Hanya tersisa 3 orang yang sebentar lagi menggapai puncak gunung, perlahan tapi pasti akhirnya ketiga pemuda tersebut berhasil menaklukan puncak gunung.

Sesampainya di puncak gunung, ketiga pemuda tersebut berjuang keras untuk menemukan Bunga Abadi. Setiap orang akhirnya mendapatkan apa yang Ia inginkan, betapa senangnya mereka impiannya kini sudah di depan mata. Namun perjuangan belumlah selesai karena untuk membawa Bunga Abadi ini membutuhkan perjuangan untuk turun dan sampai ke istana dengan selamat. Ketiga pemuda tersebut mulai menuruni tebing yang sangat licin dan curam yang telah mereka lalui sebelumnya. Tidak dapat dipungkiri perjuangan menuruni gunung lebih sulit dibandingkan dengan menaikinya, apabila terpeleset atau ada batu yang longsor akan sangat fatal akibatnya.

Ketiga pemuda tersebut bejuang dengan sekuat tenaga untuk turun di tebing yang sangat curam dan licin. Orang-orang yang menunggu dibawah memberikan riuh berteriak untuk mengarahkan ketiga pemuda itu berdasarkan persepsi mereka masing-masing agar segera bisa menginjakan kaki didasar gunung. Orang-orang tersebut sangat penasaran siapa pemenangnya dan seperti bagaimana Bunga Abadi yang diinginkan oleh putri Sang Raja. Teriakan arahan dan sorak sorai pengunjung dibawahnya begitu terdengar gemuruh ke puncak gunung. Perlahan namun pasti ketiga pemuda tersebut  terus merangkak menuruni gunung. Jalan yang ditempuh oleh mereka berbeda-benda, berbagai upaya dilakukan seperti menggunakan tali, linggis, bahkan hanya menggunkan tangan kosong.

Cuaca semakin sore semakin ekstrim, curah hujan semakin deras membasahi tebing. Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari seorang pemuda, terlihat jelas oleh mengunjung di bawah seorang pemuda terjun bebas kibat terpeleset dari tebing yang curam. Suara benturan badan jelas terdengar di bawah, sejenak suasana hening. Terdengar orang-orang yang di bawah menginstruksikan untuk segera membawa korban ke tempat pengobatan. Suasana semakin mencekam karena tebing terjal tersebut telah memakan korban yang disaksikan oleh sekitar 200 orang. Tersisa dua pemuda yang semakin dekat dengan dasar gunung, pemuda kedua hampir mendekati dasar gunung. Nampak Ia tidak sabar ingin menginjakan kakinya di dasar gunung, dengan cepat Ia menurunkam tubuhnya. Namun sayang sekali Bunga Abadi terlepas dari tubuhnya, bunga tersebut terbawa angin masuk ke sungai dan dengan sekejap ditelan oleh air. 

Kini tersisa seorang pemuda yang masih tergopoh-gopoh menuruni tebing curam dengan sangat hati-hati. Perlahan tapi pasti Ia pun menurunkan kaki kanan dan kirinya menuruni tebing curam. Semakin dekat dengan dasar gunung suasana riuh semakin jelas terdengat, pengunjung yang berada di bawah sangat beraneka ragam tingkahnya, ada yang memberikan semangat, ada yang mengarahkan, ada yang pesimis, ada yang mengolok-olok, bahkan ada yang hanya mondar-mandir seperti khawatir terjadi sesuatu lagi. Akhirnya dengan susah payah pemuda itu menggapai dasar gunung, suara riuh bahagia penonton jelas terdengar. Tanpa diperintahkan seluruh penonton berhamburan mengerumini Sang Pemuda yang telah berhasil membawa Bunga Abagi. 

Terlihat jelas pemuda di tengah kerumunan penonton begitu lelah, wajahnya lusuh dan pakaiannya compang-camping akibat perjuangan menuruni tebing terjal dan banyak pepohonan yang telah merobek pakaiannya. Sesaat suasana hening ketika ada seorang kakek bertanya kepadanya. "Selamat Nak, kamu menjadi pemenangnya. Tuan Raja akan bangga sama kamu!". Namun pemuda tersebut nampak terdiam dan tidak ada reaksi sedikitpun. Tiba-tiba dari balik padatnya pengunjung, muncuk anak kecil berperawakan kurus berjalan menghampiri pemuda tersebut. Pemuda tersebut nampak sumringah kedatangan anak kecil tersebut. Anak kecil tersebut memeluk erat Si Pemuda, sambil tangannya mengerakan sesuatu dan terlihat ada komunikasi antar mereka. Kakek tadi masih penasaran kenapa tidak ada respon dari pemuda tadi. Kakek itu akhirnya bertanya sama anak kecil yang sedang berpelukan dengan pemuda tersebut.

Kakek: Nak, siapa pemuda yang sekarang kamu peluk? 
Anak Kecil: Ini kakak saya Kek!
Kakek: Kenapa tadi tidak menjawab pertanyaan Kakek?
Anak Kecil : Maaf Kek, kakak saya tidak bisa mendengar!

Suasana menjadi hening, Kakek tersebut pun ikut bingung dengan kejadian yang ada didepannya. Anak kecil tadi akhirnya memberikan isyarat sama pemuda (kakaknya). Pemuda tersebut pun mulai memperhatikan orang-orang sekelilingnya, khususnya sama Kakek yang bertanya kepadanya. Pemuda tersebut menggerakan tangannya dan diperhatikan dengan seksama oleh adiknya. Anak kecil tadi menyampaikan pesan kepada Si Kakek.

Anak kecil: Kek Kakak saya mengucapkan terimakasih banyak untuk doa dan dukungannya sehingga Ia bisa berhasil membawa Bunga Abadi. 
Kakek: Ooh...(Dia tertunduk, karena tahu orang-orang di sekelilingnya sebagian besar tidak mendukung pemuda tersebut malah mengolok-oloknya)

Semua orang terdiam, pemuda tadi akhirnya bangkit dan melangkahkan kaki untuk menghadap Sang Raja. Sang Raja akhirnya meneria kedatangan pemuda tadi, dan langsung mengambil Bunga Abadi untuk diberikan kepada putri kesayangannya sekaligus mengobati pemuda tadi. Berkat Bunga Abadi pemuda tadi akhirnya menjadi manusia normal dan memiliki kesempurnaan fisik. Putri dan Pemuda tadi bahagia menikah dan dikaruniai anak laki-laki yang kelak akan memimpin singgasana negeri kodok.

Post a Comment for "Kodok Tuli dan Bunga Abadi"

Berlangganan