Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sampaikan Walau Hanya Satu Ayat

Garislengkung.com --- Seorang preman mendatangi ustad di sebuah mesjid. Ia sudah merasa jenuh menjadi seorang preman yang kesehariannya banyak melakukan hal negatif.

Terjadilah percakapan diantara mereka.
Preman: “Ustad saya datang kesini mau minta saran, bagaimana caranya saya agar menjadi orang baik?”
Ustad: “Apa yang terjadi sama Abang, sehingga mau menjadi orang baik?”
Preman: “Saya sudah tua Ustad, saya takut ketika nanti saya mati masih jadi seorang preman. Banyak dosa dan takut mempertanggungjawabkan perbuatan saya kepada Tuhan!”
Ustad: “Ohh seperti itu...emang kenapa kalau menjadi seorang preman?”

Ilustrasi Preman Pensiun, sumber: wowkeren.com

Preman: “Saya banyak dosa Usatad, saya banyak mengambil rizki yang bukan hak, suka berjudi, mabuk-mabukan, main perempuan, narkoba, bahkan pernah membunuh orang Ustad!”
Ustad: “Wah...banyak sekali ilmunya Abang ini...mudah-mudahan ini membawa berkah!”
Sesaat nampak preman tersebut terkaget-kaget dengan pernyataan Ustad tersebut.

Preman: “Sepertinya Ustad ini mengejek saya ya, itu semua hal-hal negatif tapi dibilang bagus!”
Ustad: “Bukan begitu Bang, setiap orang punya pengalaman masing-masing. Itu bisa menjadi modal untuk menjadi lebih baik!”.
Ustad: “Dari pengalaman tersebut Abang bisa mencegah orang-orang yang akan menjadi preman seperti Abang. Orang lainpun akan mengetahui dampak negatif berprofesi sebagai preman, apabila hal tersebut Abang lakukan dengan positif berapa banyak orang yang terselamatkan!”

Ustad: “Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik Bang, Allah SWT maha mengampuni bagi mereka yang mau bertaubat, asalkan mereka tidak Syirik”.
Preman: “Ia ustad mudah-mudahan saya bisa lebih baik, walaupun usia saya sudah menginjak 50 tahun”.

Preman: “Bagaimana caranya Ustad biar saya bisa langsung merubah diri!”
Ustad: “Bertahap saja bang, semoga Allah SWT memberikan jalan kepada kita!”
Preman: “Gimana caranya Ustad, saya kan tidak tau agama, tidak mengerti cara solat, mengaji, dan berbuat kebaikan lainnya!”

Ustad: “Cara yang paling baik untuk merubah diri adalah dengan cara berdakwah Bang!”
Preman: “Lah gimana Ustad ini, saya kan preman tidak punya dasar agama untuk berdakwah kepada orang lain!”
Ustad: “Inilah persepsi umum yang dimiliki oleh orang kebanyakan!”

Preman: “Lah itu fakta Ustad, bukannya segala sesuatu itu harus ada ilmunya!”
Ustad: “Ayo saya tanya sama Abang, ilmu atau pengalaman apa yang paling Abang kuasai?”
Preman: “Ya ilmu tentang preman lah Ustad!”

Ustad: “Ya itu bermanfaat untuk dakwah Abang, walaupun ilmu/pengalaman sebagai seorang preman itu wajib disampaikan loh!”
Preman: “Ustad ini gimana, malah mengejek...mana mungkin ilmu preman didakwahkan kepada orang lain. Nanti orang malah jadi preman seperti saya!”
Ustad: “Gak ngejek ini bang, ini betulan kok! Dakwah itu adalah mengajak kepada hal-hal yang baik sesuai dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki masing-masing loh!”

Preman: “Gimana caranya Ustad...kok bisa ya pengalaman buruk jadi bahan untuk berdakwah?”
Ustad: “Bisa...kita bisa bercerita dengan keluarga, tetangga atau orang lain mengenai latar belakang kita. Apabila hal-hal buruk ingatkan agar orang lain jangan sampai mengikuti jejak kita. Lakukan terus-menerus, Insyaallah semakin sering mengajak orang lain kepada hal-hal positif maka hal positif itu akan kembali kepada kita!”.
Preman: “Lah mana ada orang yang percaya dan mau mendengarkan orang seperti saya Ustad (sebagai seorang preman)!”

Ilustrasi ceramah, sumber: merdeka.com

Ustad: “Ya pastinya kita harus menempatkan posisi dengan tepat, atur waktu yang tepat pula, pilih siapa yang akan kita ajak bicara juga....jangan sampai kita serampangan, nanti apabila kita tidak menempatkan sesuatu pada posisinya ya hasilnya akan kurang baik juga!”.
Preman: “Lah itu dia Ustad siapa yang harus saya dakwahkan terlebih dahulu?”

Ustad: “Jangan jauh-jauh lah...mulailah dari diri sendiri, dakwahlah terhadap diri sendiri...apa yang telah kita perbuat, baik dan buruknya. Bandingkan lebih banyak yang baik atau yang buruk...waktu kita lebih banyak kita habiskan untuk urusan dunia atau urusan akhirat. Apabila Abang sudah berani jujur terhadap diri sendiri, kemudian mau berubah...maka orang lain pun akan melihat apa yang telah abang dakwahkan kepada diri Abang sendiri!”

Preman: “Oh seperti itu ya Ustad, aku pikir yang perlu didakwahkan itu harus orang yang berilmu!”.
Ustad: “Dakwah disini mengajak kepada hal-hal positif, tingkatan yang lebih tinggi adalah mengajak seseorang kepada Allah SWT. Setiap orang wajib berdakwah, nanti akan disesuaikan dengan tingkat ilmu dan pengetahuannya masing-masing yang penting mengajak kepada hal-hal positif/kebaikan. Bisa jadi orang yang seperti Abang yang berdakwah, bisa jadi seperti saya, bisa jadi artis, atau presiden juga!”

Preman: “Ooh seperti itu, jadi setiap orang bisa ya....gimana caranya biar efektif untuk berdakwah Ustad!”
Ustad: “Lakukan dengan contoh (suri tauladan), ketika Abang berusaha menjadi baik...maka tunjukan kepada orang yang Abang ajak bicara bahwa memang benar abang telah berubah, rajin ibadah, menjauhi hal-hal negatif, mencari teman yang lebih baik (positif), mencari guru yang baik, dan mencari profesi yang mendukung kebaikan tersebut!”

Ustad: “Ketika Abang menceritakan pengalaman/ilmu Abang sebagai preman, tujuannya untuk mencegah orang lain agar tidak menjadi preman seperti bang, bagaimana menghindari preman, pahitnya menjadi preman, dan dampak buruk menjadi preman....dan banyak lagi yang Abang tahu dech!”
Preman: “Ooh seperti itu...kapan waktu yang paling baik untuk berdakwah Ustad?”
Ustad: “Ya saat ini...jangan ditunda...jangan biarkan niat baik terkubur oleh hal-hal negatif!”.

=============

Ilustrasi di atas merupakan langkah-langkah untuk mengajak kepada kebaikan (hijrah). Siapapun dan kapanpun dapat melakukannya, bagi mereka yang pernah menjalani hal-hal kurang baik selama masih ada waktu...maka kesempatan masih terbuka. Bagi mereka yang sudah menjalankan hal-hal positif tinggal mempertahankan dan selalu meningkatkan agar terjaga kebaikannya.

Untuk menjadi orang baik tidak harus menunggu waktu yang tepat, manun dapat dilakukan saat ini. Untuk mengajak kebaikan kepada orang lain tidak harus menunggu berilmu, melainkan harus dapat dilakukan saat ini dari pengalaman yang pernah kita lakukan. Jadikan pengalaman positif menjadi inspirasi orang lain, jadikan pengalaman buruk sebagai hikmah bagi orang lain agar tidak melakukannya.

Sebelum mengajak kebaikan kepada orang lain, ajaklah diri sendiri untuk menjadi suri tauladan yang baik. Saat kita bercerita kepada orang lain, akan ada contoh yang melekat pada diri kita. Kebaikan akan datang kepada orang-orang yang mau mengkritisi dirinya sendiri. Hidayah merupakan hak preogatif Allah SWT, namun setiap orang dapat mencarinya.

Post a Comment for "Sampaikan Walau Hanya Satu Ayat"

Berlangganan