Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Mencari Kesalahanku, Aku Butuh Pengertianmu

Pasangan Riri dan Adi sangat senang melihat putrinya yang berusia 2 tahun sedang berlari kesana-kemari di halaman. Mereka sangat menyayangi putrinya yang telah mereka idamkan 10 tahun lalu sejak pernikahannya.

Penantian yang begitu panjang akhirnya membuahkan hasil, anak yang diidam-idamkan akhirnya diberikan oleh Tuhan. Tidak sedikit biaya yang mereka keluarkan sebelumnya untuk terapis terkait dengan kesuburannya.
Ilustrasi, sumber: https://facthacker.com
Saat ini mereka sangat bahagia dengan kehadiran putrinya tersebut. Setiap pulang kerja Adi selalu mengajak putrinya jalan-jalan di halaman rumahnya. Putrinya pun terlihat sangat senang karena ia sudah berdiri tegak di atas kedua kakinya yang montok. Berlari kesana-kemari, tanpa terlihat lelah karena kesehatan dan gizinya sangat diperhatikan.

Setiap harinya Riri dibantu oleh seorang pembantu yang telah setia menemaninya lebih dari 15 tahun. Pembantu tersebut sudah menemani dirinya sejak ibunya meninggal. Sejak kehamilan putrinya dulu, Riri telah berhenti dari tempat kerjanya. Saat ini Riri fokus untuk menjaga putrinya tersebut.

Adi pun selama bekerja merasa tenang karena Riri ditemani oleh pembantunya. Riri fokus untuk menjaga anak-anak, sedangkan pembantunya membereskan urusan rumah tangga. Keluarga mereka pun tergolong keluarga yang mapan, berbagai kebutuhan sudah terpenuhi, fokus mereka lebih kepada bagaimana putrinya tersebut bisa sukses di kemudian hari.

Perjalanan hidup mereka selama ini berjalan baik, tidak ada kurang satu pun sampai usia anaknya 2 tahun. Di satu sisi kondisi perekonomiannya semakin baik, seperti pepatah bilang bahwa anak itu membawa rizki. Kehidupan mereka pun semakin bahagia, tetangga yang melihatnya pun begitu senang dengan kondisi mereka.

Tiba suatu saat, pembantunya meminta izin untuk pergi ke kampung halamannya. Pembantu tersebut meminta cuti selama 1 bulan, karena keluarganya sedang kemalangan. Mau tidak mau Ari dan Riri pun mengizinkan pembantunya untuk pulang kampung. Namun di sisi lain mereka harus memutar otaknya agar segera mendapatkan pembatu pengganti.

Pembantunya telah pergi, kini di rumah tinggal mereka bertiga. Mecari pembantu penggati yang baik tidak lah mudah, sudah dua hari mencari penggantinya namun tak kunjung dapat. Akhirnya Riri memutuskan untuk mengurus anak dan keluarganya sendiri, sebelum mendapatkan pembatu dari Agency yang telah dihubunginya.

Kehilangan sosok pembatu rupanya sangat mempengaruhi kehidupan Riri, bekerja sendiri di rumah tidak semudah yang dibayangkan. Bakhan apabila dipikir-pikir kembali saat menjadi wanita karir, Riri menganggap bekerja profesional lebih mudah ketimbang mengurus seluruh kegiatan di rumah. Bukan masalah cape kerjaanya melainkan, rutinitas tak kunjung selesai.

Mulai bangun pagi sampai dengan malam hari dilaluinya dengan penuh kesibukan. Pagi-pagi mengurus anak dan menyiapkan berbagai kebutuhan suaminya. Siang hari membereskan rumah sambil memasak. Malam harinya menyiapkan makanan suami dan mengajak purtinya tidur. Waktu sehari terasa sebentar saking banyaknya kesibukan yang dikerjakan oleh Riri.

Suatu ketika Riri terlambat bangun karena semalam putrinya rewel tidurnya. Saat Riri bangun dari tempat tidurnya Ari sudah pergi ke kantor, jam pun menunjukan sudah jam 08.30 WIB. Seperti biasanya Riri pun harus menyiapkan makanan untuk putri tercintanya. Agar mudah terlihat purtinya yang masih tidur Ia pindahkan ke sofa. Riri pun ke dapur untuk menyiapkan makanan dan membereskan rumahnya.
Ilustrasi, sumber: http://www.starandcrescent.org.uk/
Sambil mendengarkan musik, Riri mulai memasak untuk menu makanan putrinya dan makan siang. Tanpa disadari putrinya bangun dari tidurnya dan berjalan ke luar rumah. Riri tidak menyadari bahwa putrinya tersebut telah terbangun, Riri asik saja di ruangan dapur. Putrinya berlari-lari di halaman depan dekat kolam renang.

Berlari kesana-kemari sambil memainkan air kolam, putrinya asik tanpa pengawasan. Sampai suatu saat putrinya tersebut masuk ke kolam renang karena kakinya tidak seimbang. Tubuh mungilnya meronta-ronta meminta pertolongan. Karena kesulitan bernafas, putrinya tersebut tidak dapat menangis kencang.

Riri pun tidak menyadari bahwa putrinya masuk ke dalam kolam renang. Ia masih asik dengan masakan yang dibuat khsus untuk purti dan dirinya. Di tempat lain putrinya mulai keletihan dan banyak air yang masuk ke dalam mulutnya. Sebelumnya terlihat meronta-ronta kini mulai terkulai lemas. Beberapa saat kemudian perlahan tubuh mungilnya tenggelam ke dasar kolam renang.

Akhirnya masakan spesial Riri pun sudah selesai. Sambil membereskan pakaian kotornya, Riri pun ke ruang tengah tempat membaringkan putri kesayangannya. Sampai di ruangan tengah betapa kagetnya karena putri tercintanya tidak lagi kelihatan. Riri berlari ke kamar, namun tidak menemukan putrinya. Kemudian berlari ke luar rumah, sambil memanggil-manggil putri kesayangannya tersebut. Seluruh bagian rumah telah ia kunjungi, namun putrinya tidak kunjung ketemu juga.

Sambil berderai air mata, tepat di depan kolam renang Riri terduduk lemas sambil menangis histeris. Tubuhnya lemas, seperi kapas yang kena air. Tubuhnya terkulai, kepalanya tertunduk sambil menangis. Sambil mengusap matanya, Riri kaget karena di pinggir kolam renang ada sandal putrinya yang mengambang.

Rasa penasarannya semakin memuncak, Riri pun akhirnya melihat tubuh mungil di dasar kolam renang. Tanpa basa-basi, Riri menceburkan dirinya ke dalam air. Riri mengangkat tubuh putrinya yang sudah tidak bernapas lagi. Tubuh putrinya ia langsung masukan ke dalam mobil, Riri pun membawa putrinya ke rumah sakit yang berjarak 10 Km dari rumahnya.

Perjalanan ditempuh selama 30 menit, namun yang dirasakan oleh Ririn serasa menempuh perjalanan satu tahun. Betapa tidak putri kesayangannya ini dalam kondisi kritis, perlu penanganan khusus agar tidak terjadi apa-apa. Riri sendiri sengaja tidak memberitahukan kondisi putrinya kepada Adi, karena takut marah dan mengganggu pekerjaannya.

Sesampainya di rumah sakit putrinya langsung dimasukan ke ruangan gawat darurat. Dokter pun sibuk menangani putrinya yang terlihat sudah terbujur kaku. Terlihat Riri pun tidak kuasa menahan tangisnya, dia terdiam di pinggi dokter yang sibuk menangani putrinya. Tiga dokter yang menangani putrinya perlahan-lahan bangkit dari posisinya masing-masing. Ketiganya saling bertatapan dan sudut matanya mengisyaratkan bahwa kondisi anak Riri sudah lewat (meninggal dunia).

Salah satu dokter mendekati Riri, sambil memegang tangan Riri. Sambil membuka tutup masker, dokter itu mengatakan bahwa anak Riri sudah meninggal dunia. Riri yang mendengar informasi tersebut teriak "Tiiidak"....tubuhnya terjatuh ke lantai seperti kapas yang terkena air. Tangisnyapun menggema di seluruh ruangan gawat darurat tersebut.

Sambil menangis kencang, tangan Riri menyodorkan HP kepada dokter yang menangani putrinya. "Ini nomor HP suami saya"... itu ucapan Riri, sambil menangis tersedu-sedu. Dokterpun menerima HP-nya dan mencoba menghubungi nomor yang ditunjukan oleh Riri. Tidak lama dokter tersebut mengembalikan HP ke Riri.

Riri pun kembali menangis tersedu-sedu, kini kesedihannya bertambah. Selain kehilangan putri kesayangannya juga sangat khawatir akan kemarahan suaminya karena dirinya telah lalai sehingga putrinya meninggal dunia. Dokter yang berada di ruangan tersebut pun menghampiri dan salah satunya memeluk Riri yang sedang menangis sedih.

Tidak berapa lama Adi sampai di rumah sakit. Sambil bercucuran air mata memasuki ruangan tersebut. Adi langsung memeluk putrinya yang terbujur kaku sambil menangis tersedu-sedu, tidak ada satu katapun yang terucap keluar dari mulutnya. Beberapa saat kemudian Adi bangkit dari tempat pembaringan putrinya, melangkah mendekati Riri yang tertunduk menangis.

Adi pun memeluk istinya dengan erat sambil berkata "AKU MENYAYANGIMU". Riri dan Adi berpelukan erat sambil menangis tersedu-sedu. Dalam hati Riri, sikap Adi diluar dugaanya. Sebelumnya ia khawatir akan kemarahan suaminya, namun kini terbukti suaminya begitu paham kondisi dirinya dan putri kesayangannya.

Sikap Adi yang dewasa mampu memberikan kekuatan bagi Riri, kondsi Riri yang sedang terpukul sedikit terobati dengan kasih sayang yang diberikan oleh suaminya. Tidak ada yang perlu disalahkan, semua Tuhan yang mengatur seluruh kehidupan.

=================

Kadang dalam kehidupan kita sehari-hari tidak sedikit perilaku menghakimi dan mencari kesalahan orang lain. Sebagian orang sibuk dengan perseprinya, komentar, dan lain-lain namun tidak dengan solusi untuk menyelesaikan masalah. Hal ini tentunya suatu yang sia-sia, menyebabkan kekecewaan, perpecahan, dan ketidak harmonisan. Sikap yang baik saat mendapatkan masalah adalah bukan mencari siapa yang salah, melainkan solusinya apa.

Post a Comment for "Jangan Mencari Kesalahanku, Aku Butuh Pengertianmu"

Berlangganan