Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Inspiratif Seorang Penebang Kayu

Di suatu desa hiduplah seorang Kakek penebang kayu yang hidup sebatang kara. Setiap hari dia pergi ke hutan yang ada di dekat tempat tinggalnya untuk menebang pohon. Pohon-pohon yang ia dapatkan akan diolah menjadi aneka jenis kerajinan tangan dan kayu bakar. Profesi tersebut ia lakukan sejak istri dan anaknya meninggal akibat terkena penyakit, 10 tahun yang lalu.

Tetangga yang dekat mengenal baik Si Kakek adalah seorang yang ulet dan pantang menyerah dalam bekerja. Kebutuhan perkakas rumah tangga di kampung tersebut semuanya berasal dari kakek tersebut. Perkakas rumah tangga yang disediakan oleh Si Kakek diantaranya Sandal Terompah, alas masak, sendok kayu, dan aneka jenis hiasan dinding.

Ilustrasi Menebang Kayu
Tidak sedikit warga desa membeli dan melebihkan uang dari pembelian perkakas tersebut hanya untuk membanu Si Kakek. Namun Si Kakek sendiri tidak pernah menerima imbalam lebih dari pembelinya, kecuali ada orang yang memberinya dalam bentuk makanan. Semua kehidupannya sudah ia kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Suatu hari datanglah seorang pemuda kepada Si Kakek, pemuda tersebut ingin berguru ilmu menebang dan mengolah kayu. Kakek pun menerima pemuda tersebut dengan baik. Di satu sisi Kakek memiliki teman hidup yang dapat menemani dan membantu setiap keperluannya. Di sisi lain pemuda tersebut dapat belajar banyak mengenai keahlian mengolah kayu dan aneka jenis perkakas.

Hari pertama Kakek mengajarkan pemuda tersebut mengenai teknik-teknik menebang pohon dan mengolah kayu untuk berbagai jenis perkakas yang dibutuhkan. Setahap demi setahap Kakek mengajarkannya dengan baik dan penuh semangat.

Si Pemuda pun dengan penuh antusias menerima seluruh ilmu yang disampaikan oleh Si Kakek. Pada hari kedua tibalah saatnya Kakek memberikan sebuah kapak untuk dirinya. Kapak tersebut merupakan kapak yang sekian lama disimpan oleh Si Kakek karena kapak tersebut merupakan bekas anaknya dulu sebelum meninggal.

Pada hari ketiga pemuda tersebut diperbolehkan berangkat ke hutan yang biasa Si Kakek kunjungi untuk menebang pohon. Pemuda tersebut mulai menebang pohon yang diajarkan oleh Si Kakek. Salah satu pohon yang diinginkan oleh Si Kakek adalah pohon meranti yang terkenal keras dan langka.

Pada hari pertama pemuda tersebut telah berhasil menebang 10 pohon yang berukuran kecil, namun hari pertama tersebut belum berhasil menemukan Pohon Meranti yang diinginkan. Menjelang sore pemuda tersebut pun kembali ke rumah Si Kakek.

Setelah mendengar bahwa pemuda tersebut telah berhasil menebang 10 pohon, Si Kakek pun terlihat senang terlihat dari raut wajahnya yang sumringah. Setelah selesai beres-beres dan makan, mereka pun mengobrol sambil menikmati secangkir kopi.

Si Kakek pun memuji Si Pemuda:
"Wah bagus sekali nak, hasik kerja hari ini kamu luar biasa! Kakek senang melihat kamu begitu bersemangat".
"Kakek belum pernah melihat pemuda lain selain almarhum anakku yang memiliki semangat seperti kamu! Semoga kamu tetap semangat dan belajar terus!".

Keesokan harinya pemuda tersebut pun berangkat ke lokasi yang sama untuk menebang pohon berikutnya. Semakin masuk ke hutan, pohon yang harus ditebang olehnya semakin besar. Pemuda tersebut pun mulai menebang, sekalipun semangat yang tinggi namun hari tersebut hasil tebangannya hanya 8 pohon saja.
Ilustrasi
Pemuda tersebut akhirnya pulang dengan rasa kecewa, kemarin ia mampu menebang 10 pohon namun sekarang 8 pohon. Ia mulai merasakan tantangan kali ini lebih berat dari hari kemarin selain pohonnya lebih besar juga semakin sulit medan yang ditempuhnya. Pemuda tersebut pun kembali ke rumah Si Kakek. Sesampainya di rumah, ia langsung menghadap ke Si Kakek.

"Kek hari ini saya hanya berhasil menebang 8 pohon, saya merasa kesulitan hari ini! Kemarin saya mampu menebang 10!".
"Sepertinya saya tidak ahli dalam menebang pohon, mohon maaf ya Kek!".

Kakek menatap pemuda tersebut dan seolah-olah ingin menerawang ke dalam pikiran pemuda tersebut. Sebelum berbicara kakek tersenyum sambil mengambil secangkir kopi yang sudah ia siapkan.
"Coba lah nak, kamu belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu, besok bisa di coba lagi"
"Apalagi kamu belum pernah lihat apa itu pohon meranti yang selama ini kakek katakan!".

Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.
"Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada Si Kakek?"

Si Pemuda pun dengan perasaan dongkol pulang ke rumah Si Kakek. Di jalan tidak habis-habisnya berfikir, rupanya semakin ke dalam hutan pohon yang harus ditebang semakin besar. Ia sangat sulit untuk menebangnya.


Sesampainya di rumah Si Kakek, pemuda pun terduduk dengan lesu. Seperti biasa Si Kakek datang menghampirinya. Segelas kopi pun diberikan kepada Si Pemuda. Sambil tersenyum Kakek menyapa Si Pemuda.
"Nampaknya kamu sangat lelah hari ini, mari minum kopi dulu!"
"Ia Kek, hasil tebangan pohon kali ini kurang baik!"

Mereka pun sejenak minum kopi yang telah disediakan oleh Si Kakek. Si Pemuda kembali melanjutkan percakapan.
"Selain pohonnya makin besar, menebangpun cukup sulit!"
"Hari ini hanya bisa menyelesaikan 3 pohon Kek!"

Si Kakek, terlihat manggut-manggut. Bibirnya tersungging senyum sama pemuda tersebut. Si Kakek bergegas mendekati Si Pemuda yang duduk di pojok sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Nak-nak itu lah perjuangan, semakin lama akan semakin sulit sesuai dengan perjalanan waktu"
"Tidak menjadi masalah asalkan kita punya ilmunya!"
"Nah kamu sendiri apakah sudah mempersiapkannya dengan baik?"
"Kapan terakhir kapakmu di asah?"

Si Pamuda sedikit terperangah mendengar perkataan Si Kakek. Pemuda tersebut menegakan posisi badan sambil membetulkan posisi duduknya.  Pandangannya menerawang jauh kedepan.
"Ia Kek, saya tidak berfikir bahwa kapak ini sangat penting perannya"
"Selama saya pakai, kapak ini tidak pernah diasah!"
"Saya biarkan apa adanya, langsung dipakai saja untuk menebang pohon!"

Si Kakek pun kembali menegaskan kepada pemuda tersebut.
"Nah itu lah kehidupan, kita kadang lalai dengan sisi yang lain"
"Kita disibukan dengan satu tujuan saja. Kamu dengan kapak yang baru dan tenanga yang baru bisa menebang pohon banyak. Dengan kapak yang tumpul, tenaga yang sama hasilnya akan berbeda apalagi pohon yang kamu dapatkan pun akan semakin besar"
"Sesibuk apapun kamu nak, sebaiknya perhatikan semua hal yang dapat membantu pekerjaanmu, termasuk kapakmu ini!"
"Istirahat bukan menjadikan semuanya berhenti, sambil istirahat kapakpun bisa diasah untuk menebang pohon agar lebih baik".

Si Pemuda pun merasa terbuka pikirannya. Dengan penuh semangat ia meninggalkan Si Kakek untuk mengasah kapak yang selama ini ia abaikan.


=======================================

Cerita sederhana di atas menggambarkan perjuangan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Semakin lama akan semakin besar tantangan yang dihadapi. Jika tanpa ilmu maka tantangan tersebut akan semakin sulit untuk kita pecahkan.

Rutinitas bukanlah suatu hal yang harus dilalui begitu saja, melainkan setiap harinya harus dipersiapkan dengan baik. Waktu beristirahat sejenak adalah kesempatan untuk "mengasah" segala sesuatu yang mendukung kehidupan dan karir kita.

"Mengasah diri" di waktu senggang untuk meningkatkan kemampuan pribadi, spiritual, dan sosial akan berdampak positif terhadap kehidupan dan rutinitas Anda. Ketika kita "mengasahnya" dengan baik maka "Kapak / kapasitas" diri kita akan semakin siap untuk menghadapi kehidupan yang akan datang.

Aturlah waktu yang Anda miliki disela-sela kesibukan sehingga mendapatkan ritme yang tepat. Ciptakan kehidupan yang dinamis antara keluarga, pekerjaan, dan diri sendiri. Jika terbentuk keseimbangan maka akan menciptakan pencapaian yang lebih baik dalam kehidupan Anda.

Jangan menunda-nunda waktu, lakukanlah mulai saat ini!

Post a Comment for "Kisah Inspiratif Seorang Penebang Kayu"

Berlangganan