Belajar dari Bayi dan Pandai Besi untuk Menghadapi Ujian Hidup

Jika kamu merasa hari ini terasa berat, mungkin itu ujian kesabaranmu untuk naik level yang lebih baik. Jika kamu gagal hari ini mungkin itu adalah persiapan untuk menyongsong kesuksesan di kemudian hari. Jika kamu kecewa hari ini, mungkin karena terlalu besar apa yang kamu harapkan.

Lelah, kegagalan, kecewa dan sebagainya jika kita lihat dari sudut pandang yang positif itu semata-mata ujian untuk kita agar lebih baik lagi. Tentunya tidak semua orang dapat menerima ini dengan sudut pandang positif. Beruntunglah jika kamu adalah bagian dari mereka yang positif.

Pedang Zulfikar | Okzone.com

Pernahkah kamu membayangkan seorang anak kecil usia 1-2 tahun yang belajar berjalan? Wah tentunya seru banget kan? Yang pasti bayi itu gemas banget untuk bisa berdiri dan jalan. Mula-mula ia melangkah bak robot kan? Satu langkah saja masih kaku dan berat. Satu kali dicoba, tanpa menyerah dia ulanginya lagi berkali-kali.

Bayi tersebut tidak pernah menyerah, perlahan tapi pasti kaki yang terlihat gendut mulai lancar diangkatnya. Walaupun masih dibantu dengan berpegang pada benda di sekelilingnya namun ia begitu semangat untuk bisa jalan. Ia fokus mencoba dan mencobanya lagi.

Tidak dapat dihitung berapa kali ia terjatuh, berapa kali jari kakinya terantuk, berapa kali dengkulnya membentur lantai, berapa kali kakinya pegal akibat kelelahan. Ia dan orang tuanya tidak dapat menghitung jumlah usaha yang dilakukannya. Hasil nyata adalah ketika dia sudah bisa berdiri tegak dan berjalan. Semua orang di sekelilingnya akan sangat senang dan bangga.

Upaya yang dilakukannya tentunya tidak sampai disini, sampai tua pun kelak ia akan belajar jalan bahkah berlari baik disadari maupun tidak. Garis tanganlah yang akan menentukan apakah dia akan menjadi Usain Bolt ataupun Hawking. Mereka akan bergerak sesuai dengan versinya masing-masing.

Itulah refleksi kita terhadap kegagalan dan perjuangan yang begitu keras. Siapapun yang berhasil melewatinya dan belajar dengan baik, dapat dipastikan mereka akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Analogi lain yang dapat kita ambil hikmahnya selain bayi di atas adalah proses pembuatan perkakas di Pandai Besi.

Sebuah baja yang akan dibuat menjadi pedang atau pisau akan melewati proses yang sangat panjang agar menjadi senjata yang baik. Baja tersebut akan ditempah beribu-ribu kali, akan dibakar beratus-ratus kali, akan direndam beratus-ratus kali, kemudian akan asah beribu-ribu kali sebelum menjadi senjata tajam.

Proses pembuatan pedang atau pisau oleh pandai besi pun akan bergantung dengan bahan baja yang digunakan. Jika bajanya sangat baik, prosesnya akan semakin lama. Namun hasilnya pastinya akan sangat baik. Jika bajanya kurang baik, hal sebaliknya proses pemandaiannya pun akan lebih cepat jika dibandingkan dengan baja terbaik, otomatis hasilnya pun tidak sebaik baja pilihan.

Baja baik, saat ditempa akan terasa keras dan membutuhkan proses tertentu yang dapat dibentuk sesuai keinginan. Bahkan jika hal ini dilakukan oleh para pemandai dari Baghdad tentunya akan jauh lebih hebat lagi, karena akan menghasilkan pedang terbaik di dunia.

Baja bahan pedang tersebut akan diberikan proses ionisasi untuk membentuk molekul baja menjadi lebih padat dan rapat, proses ini akan menghasilkan baja pedang yang ringan, lentur, dan sangat tajam. Akan menghasilkan pedang yang ditakuti oleh musuh-musuh saat di medan perang.

Untuk menghasilkan pedang hebat ini, Sang Pandai tentunya membutuhkan waktu, biaya, tenaga, yang tidak sedikit. Bahkan orang zaman dahulu saat membuat benda atau pusaka banyak yang disertakan dengan doa-doa kepada Tuhan agar benda atau senjatanya dapat diberikan hasil yang maksimal.

Di sisi yang lain tidak semua baja kondisinya baik, tidak semua baja juga dapat diolah oleh Pandai dari Baghdad. Mungkin saja baja ini kadarnya hanya 80% selebihnya 20% adalah besi. Selain daripada itu karena butuh cepat, dipilihlah pandai besi terdekat yang ada di sekeliling kita.

Proses pembuatan pedang atau pisau pun seperti biasa, namun akan menyesuaikan dengan bahan dan Sang Pandai yang membuatnya. Saat baja ditempah beberapa kali dengan mudah sudah terbentuk, saat dicelupkan ke air sudah langsung dingin, saat diasah pedang cepat aus, saat diuji ke benda keras tidak terlalu baik. Pada akhirnya tidak dapat dipungkiri, hasil akan sesuai dengan kualitas bahannya.

Itu lah beberapa ilustrasi proses atau perjuangan yang dilakukan untuk mendapatkan hasil yang baik. Tidak mudah, membutuhkan waktu yang panjang, dan membutuhkan orang-orang pilihan yang dapat menjalankan proses pembuatan pedang atau pisau tersebut.

Saat kita menghadapi ujian atau cobaan, dengan pikiran positif anggaplah kita sebagai baja yang sedang ditempa untuk dibentuk menjadi sebuah pedang atau pisau. Ingat, kembali kepada kalimat di atas bahwa kita sebagai baja akan menjadi baja yang baik atau biasa saja?

Jika kita adalah baja yang baik, jangan salah tempaan atau cobaan yang kita hadapi akan sangat berat dan dahsyat dibandingkan dengan orang lain. Diibaratkan kita menjadi baja yang dibentuk oleh seorang Pandai Besi dari Baghdad.

Tempahannya ribuan kali, pembakarannya ratusan kali, pencelupan ke air beratus-ratus kali, dan adanya proses ionisasi untuk membentuk kita menjadi baja yang handal. Prosesnya pun dilakukan dengan sangat hati-hati, dilakukan dengan cara-cara khusus, dan diiringi dengan doa agar semua berjalan dengan baik.

Jika kita melewati proses ini dengan baik, maka kita akan keluar dari bangunan Pandai Besi menjadi sebuah pedang yang sangat tajam, lentur, dan ringan. Kita dapat menghalau pedang-pedang lain dengan baik, bahkan bisa mematahkannya. Pada akhirnya jika pedang sudah tidak digunakan lagi akan terkenang di pelosok negeri, semua orang ingin memilikinya, dan pedang pun akan ditempatkan di tempat yang sangat baik (museum).

Pandai besi | Pexels.com

Lain halnya dengan baja yang biasa, kemudian dibuat di Pandai Besi biasa juga. Karena dari bahan yang biasa, diolah oleh orang biasa, maka hasilnya pun akan menjadi pedang yang biasa-biasa saja.

Jika padang ini dipergunakan, kemungkinan besar akan dipegang oleh orang biasa-biasa saja. Jika pedang ini sudah tidak dipergunakan lagi kemungkinan akan menjadi pedang biasa yang tergantung di dinding atau hanya sebagai hiasan rumah saja saja.

Ilustrasi tersebut sebetulnya sangat ideal, jika pedangnya sangat buruk tidak menutup kemungkinan pedang ini beralih fungsi menjadi cungkil tanah, mainan anak-anak, jika sudah tidak dipakai dan berguna mungkin juga dibuang ke tempat sampah.

Sesulit apapun masalah yang dihadapi, seberat apapun beban hidup yang kita jalani selalu ada hikmah dibaliknya. Tuhan itu sangat adil dan baik, beban kita akan disesuaikan dengan kemampuan kita. Semakin tinggi kualitas seseorang, maka otomatis akan semakin tinggi ujian dan tanggung jawab yang dibebankan.

Jika kita dapat melewati ujian level tersebut, maka kita akan dihadapkan dengan ujian level berikutnya. Ujian akan berakhir saat kita menghadap kepada Tuhan sang pemilik alam semesta. Ujian terbesar bagi setiap kita (umat manusia) yaitu menegakkan keadilan diatas kebatilan, menegakkan kebaikan di atas keburukan.

Tanamkan jiwa positif, belajar dari setiap kesalahan, dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian, tetap semangat berjuang, jadilah baja berkualitas agar menghasilkan pedang Baghdad yang sangat terkenal di dunia.

Selamat berjuang untuk jiwa-jiwa yang sedang diuji kesabarannya.

Posting Komentar untuk "Belajar dari Bayi dan Pandai Besi untuk Menghadapi Ujian Hidup"