Bung Hatta: Kisah Sang Proklamator yang Menolak Tergoda Kekuasaan

Table of Contents

Di sebuah rumah sederhana di Jalan Diponegoro 57, Menteng, Jakarta Pusat, seorang lelaki tua duduk termenung. Di tangannya tergenggam guntingan iklan sepatu Bally yang sudah menguning. Sepatu kulit impiannya itu tak pernah terbeli hingga akhir hayat. Padahal, lelaki itu pernah menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Namanya Mohammad Hatta (Bung Hatta) sang proklamator yang memilih hidup dalam kesederhanaan meski kekuasaan pernah ada di genggamannya.

Moh. Hatta - kompas.com

Kisah ini bukan dongeng. Ini nyata, dan justru karena itulah ia begitu menggugah. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah memimpin bangsa ini harus menahan diri untuk sekadar membeli sepatu? Jawabannya terletak pada prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Hatta sepanjang hayatnya: integritas di atas segalanya.

Anak Minang yang Menolak Kemewahan

Mohammad Athar adalah nama kecil Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902. Ia tumbuh dari keluarga ulama Minangkabau yang terpandang. Ibunya, Siti Saleha, berasal dari keluarga saudagar besar di Batavia. Secara materi, Hatta tidak pernah kekurangan. Namun, justru dari lingkungan yang berkecukupan itu, ia belajar sesuatu yang jauh lebih berharga: kepekaan terhadap penderitaan orang lain.

Sejak kecil, Hatta sudah menunjukkan kecerdasan dan kedisiplinan luar biasa. Ia menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Padang, lalu melanjutkan ke MULO, dan akhirnya ke HBS di Batavia . Di usia 17 tahun, ia sudah aktif sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond cabang Padang . Kesadaran politiknya tumbuh dari kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah politik, dengan Abdul Moeis sebagai idola.

Tahun 1921, Hatta berangkat ke Rotterdam, Belanda, untuk belajar ilmu perdagangan di Nederland Handelshogeschool. Di negeri Kincir Angin itu, ia tinggal selama 11 tahun. Di sana pula ia menyaksikan sendiri bagaimana rakyat Belanda hidup berkelebihan dari hasil menguras kekayaan bangsa Indonesia . Pengalaman itu membekas dalam jiwanya. Tekadnya semakin kuat: Indonesia harus merdeka.

Perjuangan di Tanah Pengasingan

Di Belanda, Hatta bergabung dengan Indische Vereeniging merupakan organisasi pelajar Indonesia. Ia kemudian menjadi tokoh utama. Ia tidak hanya belajar, tetapi juga berjuang. Bersama rekan-rekannya, ia menyusun strategi diplomasi dan propaganda untuk kemerdekaan Indonesia. Tahun 1927, ia bahkan masuk dalam gerakan Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan.

Namun, perjuangan itu berbuah penindasan. Hatta ditangkap dan diadili karena aktivitas politiknya. Ia melihat sendiri betapa tidak adilnya pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Rakyat ditindas, dinista, dan menderita. Pengalaman itu tidak membuatnya gentar. Justru sebaliknya, semakin sering ia diasingkan dari satu pulau ke pulau lain. Sehingga semakin dekat ia dengan masyarakat di sekitar rumah pengasingannya. Ia meresapi penderitaan rakyat dan semakin meruncingkan tekadnya untuk mengakhiri kolonialisme.

Bahkan, Hatta bertekad tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Ia menunda kebahagiaan pribadi demi sesuatu yang jauh lebih besar: kebebasan bangsanya.

Kalimat Pertama yang Mengubah Sejarah

Tanggal 17 Agustus 1945 menjadi puncak perjuangan Hatta. Bersama Soekarno, ia merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dalam peristiwa itu, Hatta menyumbang kalimat pertama yang sangat bermakna: "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya." 

Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah pernyataan tegas bahwa kemerdekaan harus diikuti dengan tindakan nyata, bukan sekadar retorika. Setelah naskah selesai, Soekarno dan Hatta menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia. Hatta juga mendampingi Soekarno saat pembacaan teks proklamasi.

Namun, Hatta sendiri pernah mengatakan bahwa ada dua pencapaian yang paling berarti sepanjang hidupnya. Pertama, saat ia menjadi salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kedua, saat ia mewakili bangsa Indonesia menerima penyerahan kedaulatan di Belanda pada 27 Desember 1949.

Diplomasi di Meja Bundar

Peran Hatta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag tidak bisa diabaikan. Ia memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan yang menentukan masa depan politik Indonesia pascaproklamasi. Meskipun Belanda menekan dengan berbagai cara, Hatta berhasil memimpin perundingan hingga Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan pada tahun 1949.

Kemenangan diplomasi itu bukan hasil kebetulan. Ia adalah buah dari kecerdasan, ketekunan, dan integritas Hatta yang telah teruji bertahun-tahun. Dalam jurnal Peranan Mohammad Hatta pada Masa Pemerintahan Parlementer 1948-1956, disebutkan bahwa Hatta berperan besar sebagai pemimpin delegasi Indonesia di KMB dalam usahanya mempertahankan kemerdekaan.

Menolak Hadiah, Menolak Kemudahan

Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden pada 1 Desember 1956, Hatta menjadi warga negara biasa. Banyak tawaran datang, perusahaan-perusahaan ingin menjadikannya komisaris. Namun, Hatta menolak mentah-mentah. Alasannya sederhana: “ia malu jika hanya mencari pangkat.”

Kisah-kisah tentang kejujuran Hatta begitu banyak hingga sulit untuk dihitung. Ia pernah mengembalikan sisa uang berobat kepada negara. Ia menolak menerima amplop tebal berisi uang. Ia menolak hadiah mobil mewah dari seorang pengusaha. Bahkan, ia pernah menolak permintaan adiknya yang meminta memo agar bisa memasang telepon tanpa mengantre.

Sikap jujur dan sederhananya juga ditunjukkan dengan menolak kenaikan uang pensiun. Padahal, ia membutuhkan uang untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Hatta pernah tidak mampu membayar rekening listrik karena gaji pensiunnya tidak cukup. Hingga akhirnya Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, harus turun tangan membantu keluarga Hatta.

Kisah sepatu Bally menjadi simbol paling menyentuh dari kesederhanaan Hatta. Di tahun 1950-an, ia melihat iklan sepatu kulit Bally di koran dan ingin memilikinya. Namun, hingga akhir hayatnya pada 1980, sepatu itu tak pernah terbeli. Di laci Hatta masih tersimpan guntingan iklan sepatu Bally yang tidak sempat dibeli karena kurang uang.

Bapak Koperasi dan Warisan Pemikiran

Hatta bukan hanya pejuang dan negarawan. Ia juga pemikir besar. Salah satu warisan pemikirannya yang paling penting adalah konsep koperasi sebagai fondasi ekonomi kerakyatan. Hatta menempatkan koperasi sebagai fondasi penting dalam membangun ekonomi nasional yang berlandaskan pada asas kekeluargaan dan gotong royong.

Gagasan koperasi Hatta lahir dari pengalamannya mempelajari sistem ekonomi di Skandinavia, khususnya Denmark, serta melihat ketimpangan ekonomi yang dialami rakyat Indonesia. Ia memperjuangkan agar sistem ekonomi kekeluargaan diatur dengan jelas dalam UUD 1945, khususnya Pasal 33. Karena jasanya itu, Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Kesederhanaan yang Menginspirasi

Ketua KPK Abraham Samad pernah menyebut Hatta sebagai sosok yang layak menjadi inspirasi di tengah keputusasaan dan harapan akan adanya pejabat yang konsisten menjalankan sumpah jabatannya. Menurut Abraham, Hatta telah mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kejujuran, empati, tanggung jawab, kerja keras, dan sikap rela berkorban.

Kesederhanaan Hatta bukanlah gaya-gayaan. Ia adalah manifestasi dari nilai moral yang dibangun atas dasar kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan pengabdian kepada negara. Hatta pernah mengatakan, jika berbuat sesuatu dilandasi keikhlasan dan karena Tuhan, maka segalanya bisa terjadi.

Hingga akhir hayatnya pada 14 Maret 1980, Hatta tetap setia pada jalan kesederhanaan. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Warisannya bukanlah harta benda, melainkan teladan tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin hidup: jujur, sederhana, dan mengabdi sepenuhnya kepada rakyat.

Bung Hatta telah pergi, tetapi kisahnya akan selalu hidup. Di tengah negeri yang kerap dilanda korupsi dan gaya hidup mewah para pejabat, sosok Hatta berdiri sebagai cermin yang menuntut kita untuk bertanya: sudahkah kita hidup dengan integritas seperti yang ia contohkan?

Posting Komentar