Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nenek Ijah dan Orang Gila

Tepat jam 17.00 Nenek Ijah tergopoh-gopoh ingin menyebrang perempatan Jl. Ringroad simpang Jl. Gatot Subroto Medan, namun kondisi jalanan sangat macet karena banyak pekerja yang pulang kantor dan anak muda yang akan berjalan-jalan ke Mall Manhattan. Selain jalanan macet lalu-lintas di sini cukup semrawut. Setiap kali Nenek Ijah menginjak aspal pada saat lampu merah, didepannya melintas sepeda motor dan angkot yang mencuri jalan menerobos lampu merah. Untuk menghindari resiko kecelakaan Nenek Ijah mengurungkan niatnya untuk menyebrang jalan. 

Ilustrasi, sumber: www.pictaram.org

Nenek Ijah berdiri seorang diri, tidak ada orang yang dapat membantu menyebrang. Setelah sepuluh menit, seorang lelaki paruh baya menghampirinya dengan tujuan yang sama untuk bisa melewati kepadatan lalulintas di perempatan tersebut. Lelaki tersebut berperawakan kurus, bajunya lusuh, dan rambutnya gondrong. 

Lampu hijau berganti merah, Nenek Ijah pun melakukan hal yang sama bersiap-siap untuk bisa menyebrang, kaki kanannya sudah diinjakan ke aspal motor pun dengan kencang melintas di depannya. Nenek Ijah pun kembali menarik kakinya, sambil melihat kepada orang yang tepat disampingnya. Saat Nenek Ijah menoleh kesamping, orang yang di sebelahnya melakukan hal yang sama, kedua mata pun bertatapan lelaki tadi tersenyum malu dengan polosnya.

Usaha yang sama untuk ketiga kalinya pun dilakukan, namun lagi-lagi Nenek Ijah tidak mau menerima resiko kecelakan. Badan dan kakinya ditarik kembali ke tempat semula karena takut tertabrak. Sambil agak kesal karena usahanya tidak kunjung berhasil, Nenek Ijah pun menoleh ke lelaki disebelahnya yang tak kunjung menyebrang. Hal yang sama Ia dapatkan, dua mata saling bertatapan laki-laki tadi tersenyum dengan polosnya. Namun kali ini Nenek Ijah jelas melihat siapa orang yang ada di sampingnya, ya Dia adalah orang gila yang akan menyebrang bersamanya.

Kini usaha Nenek Ijah yang ke-empat sambil tergopoh-gopoh mencuri garis start menurunkan kakinya ke jalan aspal dengan harapan bisa langsung menyebrang jalan. Tiba-tiba Truk Tronton bermuatan pasir membunyikan klakson yang begitu kencang didekat telinganya, Nenek Ijah terkejut dan menarik kakinya cepat-cepat agar tidak tertabrak. Dengan Emosinya Nenek Ijah berteriak “Kalian Gila ya, mau nyebrang aja payah!”.

Tiba-tiba lelaki disampingnya pun ikut berteriak “Kalian memang Gila!”, sambil terlihat emosi. Badannya yang semula sedikit membungkuk kini tegak, semula matanya sayu kini matanya melotot. Dengan gagah berani saat lampu merah tiba, dia merentangkan tangannya seperti Bapak Polisi Lalu Lintas yang sedang mangatur kemacetan jalan untuk mengawal Nenek Ijah bisa menyebrang. Nenek Ijah pun kaget, namun kesempatan tersebut Ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Nenek Ijah dengan ringkih melangkahkan kaki menyebrang lalu-lintas yang padat dikawal dengan Sang Pahlawan “Gila”. Sesampainya di seberang jalan Nenek Ijah menghela nafasnya yang terasa sesak akibat usia, sambil beristirahat Dia pun melihat ke samping tempat lelaki yang membantu menyebrangkan dirinya. Hal tadipun terulang lagi, kedua mata saling bertatapan senyum malu-malu dari orang gila tersungging dengan polos. Tidak lama berselang orang gila tersebut meninggalkan dirinya sambil berjalan agak membungkuk dan tangannya bersedekap di dadanya.

Sambil menatap kosong Nenek Ijah bergumam “Sulit dibedakan orang gila asli dengan orang gila akibat keegoisan”. Setelah beristirahat sejenak Nenek Ijah melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah untuk memasak sayuran yang telah Ia beli. Sambil berjalan Nenek Ijah tidak habis pikir zaman sekarang banyak orang gila dan orang normal yang mau menjadi gila.

Post a Comment for "Nenek Ijah dan Orang Gila"

Berlangganan