Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nita Belajar Bertanggung Jawab

Nita merupakan anak pertama pasangan Abdul Malik dan Berliana, usianya 5 tahun sedang semangat-seamangatnya belajar kehidupan. Abdul merupakan pengusaha Kain Batik dari Tasikmalaya, sedangkan Berliana merupakan Ibu Rumah Tangga kelahiran Jakarta. Mereka bertemu saat di bangku perkuliahan, menikah setelah kuliah tahun 2002 dan memulai usaha Batik di Jakarta. 

Abdul memimpin keluarga dengan baik, mulai dari segi pendidikan, ekonomi, dan agama. Nita dibesarkan dalam kondisi ideal dan penuh kasih sayang. Kedisiplinan merupakan hal utama untuk mengajari anak sejak dini. Abdul setiap pagi mengajari anaknya untuk berjamaah Solat Subuh, setelah itu sarapan bersama sebelum berangkat ke ruko empat Ia berbisnis. 

Ilustrasi, sumber: www.femside.com

Keseharian Berliana mengurus Nita dan berjualan online produk suaminya. Menjelang sore kadang-kadang datang ke ruko tempat suaminya bekerja untuk membantu dan memperkenalkan kepada Nita kegiatan orang tuanya. Nita begitu senang dan banyak belajar dari keseharian orang tuanya. Nita merupakan anak yang pintar dan aktif bertanya, apapun yang ada dilihatnya Ia tanyakan, kadang-kadang pertanyaannya itu diulang beberapa kali tanpa henti-hentinya. Sepintas bagi orang awam, menganggap Nita anak yang bawel dan tidak mau diam. Padahal Anak yang aktif dan banyak bertanya adalah anak yang sehat bahkan pintar.

Perjalanan bisnis Abdul berjalan dengan mulus berkat pengalaman sejak kecil dari orang tuanya dan bekal pendidikan di bangku kuliah. Rupiah demi rupiah Ia sisihkan untuk melaksanakan panggilan Allah SWT yaitu berangkat Haji. Tabungan hajinya sudah cukup dan sudah mendapatkan porsi berangkat ke Tanah Suci Mekah. Rencana pun disusun sematang mungkin agar semuanya berjalan lancar baik Nita yang akan ditinggal bersama Neneknya di Tasik, kegiatan bisnis, dan beberapa properti yang Ia tinggalkan.

Cukup berat harus meninggalkan Nita yang sedang lucu-lucunya, apalagi saat menggendong tas besar Dora berangkat ke Play Group. Abdul yakin Nita akan baik-baik saja bersama orang tuanya karena dia sudah ajarkan   etika dan pendidikan sejak dini. Akhirnya waktu keberangkatan pun didepan mata, Abdul dan Berliana izin berpamitan dan menitipkan putrinya kepada orang tua dan adiknya yang masih gadis. Kurang lebih 40 hari Nita akan ditinggalkan di Tasikmalaya, harapan Abdulah dan istri Nita bisa betah saat ditinggalkannya.

Nita begitu tegar saat ditinggalkan oleh Abdul, isak tangis mengiringi kepergian Abdul dan istri. Orang tua Abdul pun beranjak meninggalkan Bandara Soekarno - Hatta beserta Nita dan Santi (adik Abdul). Nenek Nita tidak lekas pulang ke Tasikmalaya, melainkan menginap beberapa hari di rumah kontrakan Santi di daerah Bekasi. Santi kebetulan bekerja di perusahaan otomotif yang berada di komplek Industri Bekasi. Santi begitu senangnya punya mainan baru yaitu keponakan yang menggemaskan tinggal beberapa hari di Bekasi.

Hari Minggu saatnya jalan-jalan ke Jakarta, Santi mengajak Nita dan orang tuanya pergi menggunakan mobil pribadinya. Nita begitu senang bisa jalan-jalan dan membeli banyak mainan. Salah satu makanan favorit Nita adalah Coklat Silverqueen. Santi dengan senang hati membelikan banyak coklat dan beberapa mainan. Saat pulang ke rumah Nita meminta untuk dibukakan sebungkus coklat, Neneknya membantu membukakan. Tanpa rasa bersalah neneknya membuka kaca mobil sedikit dan membuang cangkang bekas coklat tadi ke luar. Nita memperhatikan dengan seksama, dan bertanya:

Nita: Kenapa Nenek buang sampahnya ke luar ya?
Nenek: Mobil harus dijaga Nak biar bersih, sampah coklat sengaja Nenek buang!
Nita: Ayah bilang jangan buang sampah sembarangan loh, tapi Nenek bisa buang langsung?
Nenek: Gak apa-apa Nak, nanti juga ada yang beresin!

Nita berhenti bertanya karena asik menikmati coklat kesukaannya. Dua hari berlalu, Nenek dan Nita akhirnya pulang ke Tasikmalaya. Sesampainya di Tasik, Nita mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Rumah Nenek di sana luas dan banyak pernak-perniknya. Salah satu yang menarik Nita adalah susunan Lego yang membentuk Tokoh Kartun Minnie Mouse. Nita pun setiap hari memperhatikan dan meraba-rabanya, semakin lama-semakin tertarik dengan Lego tersebut. 

Nita: Nek, bagus sekali Legonya .... punya siapa ya?
Nenek: Itu punya Tante Santi Nak!
Nita: Bagus ya, Nita suka! Berapa lama Tante Santi bisa buat seperi ini Nek?
Nenek: Tante Santi dulu menyusunnya kurang lebih seminggu Nak. Sulit Legonya kecil-kecil!
Nita: Oh, bisa gak Nek Lego ini buat Nita?
Nenek: Itu Lego kesayangan Tante Santi, Dia tidak memberikan sama siapapun Nak! Nanti pas pulang minta aja yang baru sama Papa ya!

Nita terdiam sambil membayangkan Lego baru dari Papanya dan menyusunnya satu-persatu membentuk binatang kelinci. Dua hari berlalu, Nita semakin penasaran dengan Lego yang setiap hari Ia lihat di sudut ruangan. Dia mulai mendekatinya, diperhatikan dengan seksama dan mulai tangannya meraba-raba setiap kelukan Lego tersebut. Satu-dua butir Lego Ia copot dan pasang kembali ke tempat semula. Nita lakukan sebagai bentuk rasa penasaran dan belajar untuk mempersiapkan diri menyusun Lego saat papanya pulang nanti. 

Seperti hari sebelumnya satu persatu Legonya dia copotin bagian bawah Kaki Minnie Mouse, saking asiknya Nita lupa makan siang yang sudah Nenek siapkan. Akhirnya Sang Nenek pun memanggilnya. Nita bergegas bangkit dari duduknya, namun "trakk" kepalanya menyenggol badan Lego. Lego pun oleng ---- "bruuuk" sosok Minnie Mouse yang begitu indah kini hancur berkeping-keping. Sesaat Nita tertegun, dalam hatinya penuh perasaan bersalah dan takut dimarahin Nenek. Nita sambil menundukan mukannya bergegas menuju ruangan makan, sambil tertunduk Nita beranikan diri untuk bicara masalah Lego yang hancur olehnya.

Nita: Nek, Legonya rusak sama Nita!
Nenek: Aaduuuh Nita....

Nenek langsung bergegas menuju ruang tengah tempat Lego berdiri, "Astagfirullah"...satu kata yang bisa diucapkan Nenek. Sejenak Nenek tertegun, betapa kecewanya dia dan siap-siap mendapatkan omelan dari Santi yang susah payah membentuknya. Nenek berjongkok sambil mengambil beberapa butir Lego yang terpecah. Dipandangnya sesaat, kemudian beranjak ke ruang makan tempat Nita menunggu dengan ketakutan. Nenk duduk tepat di depan Nita sambil memandang Nita yang tertunduk takut dimarahi.

Nenek: Nita, Nenek kan sudah bilang jangan main-main dengan Lego Tante Santi. Kalo sudah rusak begini nanti Tante marah sama Nenek dan Nita.
Nita: Maaf Nenek, tapi "nanti juga ada yang beresin Nek"!
Nenek: Astagfirullah....

Satu kata terakhir dari Nenek, begitu terkejutnya mendengar perkataan Nia. Itu merupakan bumerang yang sebelumnya pernah Ia ucapkan saat membuang sampah sembarangan. Akhirnya Nenek bergegas meninggalkan ruang makan menuju telepon yang ada di ruang tengah. Nenek mau mengabari Santi mengenai kejadian tersebut. Nenek dengan sedikit ragu-ragu menelepon Santi.

Nenek: Santi, ini loh keponakan mu itu main-main sama Lego mu. Akhirnya Lego itu jatuh dan hancur berantakan.
Santi: Ya namanya juga anak-anak Ma, tapi gak apa-apa ya Nita?
Nenek: Gak apa-apa, cuma Mama khawatir Kamu marah karena dulu menyusunnya lama banget untuk bisa membentuk Minnie Mouse!
Santi: Harus gimana lagi Ma, gak usah dipikirin....biarin aja, tinggal dibereskan dan dimasukan ke kardusnya aja. Lagian sekarang Santi tidak membutuhkannya lagi kok!
Nenek: Ohh...ya sudah, tapi Mama kaget pas tadi Nita bilang "nanti juga ada yang beresin Nek"!
Santi: Itu lah kejujuran dari anak Ma, itu pelajarn untuk kita --- Mama sebelumnya mengajarkan hal itu sama Dia saat makan coklat. Kita harus lebih bertanggung jawab lagi!
Nenek: Ia ya, Nita gak salah kita yang salah didik dan memberikan contoh.

Nenek menutup telepon sambil mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian bergegas kembali ke ruang makan. Nita pun masih menunggu sambil makan hidangan yang disediakan. Nenek melihat Nita sambil berbicara lembut kepadanya.

Nenek: Udah makannya Nak?
Nita: Sedikit lagi Nek, ini mau Nita habiskan nasi dan ikannya.
Nenek: Kalau sudah bantu Nenek ya beresin Lego yang sudah berantakan itu, nanti kalo sudah rapi boleh Nita bawa ke Jakarta untuk mainan disana ya!
Nita: Asssiiiikkk...makasi Nenek! Jadi yang beresin kita ya Nek, gak ada orang lain beresin Legonya?
Nenek: Gak ada Nak, kita lah yang harus bertanggung jawab. 
Nita: Ok Nek....Nita beresin! Terus buang sampah di Mobil juga gak baik ya?
Nenek: Ia gak boleh, itu gak baik. Kemaren Nenek lupa kasi tau Nita!
Nita: Ok makasih Nek, Nita gak buang sampah sembarangan dan kalau main-main beresin sendiri mainannya.
Nenek: Anak pintar....makan yang banyak ya.

Nenek dan Nita pun sama-sama sadar betapa pentingnya bertanggung jawab. Tidak ada istilah orang tua atau anak-anak dalam berbuat kebaikan, segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan jangan sampai merugikan orang lain. 

Post a Comment for "Nita Belajar Bertanggung Jawab"

Berlangganan