Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nurdin; Camp Penampungan Romusha

Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia selama kurun waktu 3,5 tahun yaitu pada pertengahan tahun 1942 sampai 1945 ada kisah perjuangan heroik seorang pekerja Romusha. Dia bernama Nurdin, asli orang Sukabumi Jawa Barat yang dibawa oleh tentara Jepang untuk ikut kerja paksa Romusha di beberapa daerah di Pulau Jawa.

Nurdin merupakan pemuda yang besasal dari Kampung Cisaat yang terkenal dengan Pandai Besi yang menghasilkan berbagai kerajinan senjata tajam khas Sukabumi.

Nurdin berperawakan tinggi besar, berotot, kulit coklat, dan seorang pekerja keras. Nurdin terbiasa melakukan aktivitas kasar menjadi pekerja di Pandai Besi Cisaat. Pada saat Jepang masuk ke Sukabumi, tidak dapat dihindari tempat bekerja Nurdin menjadi salah satu target bumi hangus tentara Jepang, pandai besi dianggap membahayakan Tentara Jepang karena memasok perkakas perang bagi warga lokal.

Alhasil bangunan dan perkakas tempat bekerja Nurdin dirampas dan diratakan dengan tanah. Nurdin sendiri selaku pemuda satu-satunya di pandai besi tersebut menjadi sasaran amuk mereka dan menjadi salah satu tawanan perang Jepang.

Ilustrasi Romusha, foto: www.bbc.com

Tepatnya Bulan Juli 1943 Nurdin diasingkan sekaligus dipekerjakan di daerah Yogyakarta, Nurdin dipekerjakan di Statsiun Tugu yang pada saat itu mengalami kerusakan akibat dampak perang antara Jepang dengan Belanda. 

Baca juga: Anthony Robles; "From Underdog to Undefeated"

Pekerjaan Nurdin mulai membongkar rel kereta api, memasang papan ambalan, sampai memperbaiki bangunan yang rusak. Tidak dapat dibayangkan betapa kerasnya perjuangan para pekerja Romusha, mereka diperas tenaganya siang dan malam sedangkan makanan yang diberikan hanya satu kali dalam sehari. Banyak pekerja yang bersama-sama Nurdin sakit, badannya kurus kering, bahkan banyak yang meninggal dunia.

Pekerjaan dan latar belakang keluarga Nurdin yang keras dan berasal dari keluarga sederhana, menjadikan Nurdin lebih kuat terhadap tekanan kerja paksa Romusha. Enam bulan berlalu sebagai sorang tawanan perang dan pekerja paksa, Nurdin mulai tergerak hatinya setelah melihat banyaknya korban dan kekejaman Jepang terhadap penduduk lokal. 

Hal ini membulatkan tekad Dia untuk keluar dari lingkungan yang sangat kejam tersebut. Nurdin selama sebulan berfikir keras bagaimana dia bisa melarikan diri dari cengkraman Romusha. Pekerjaan terus berjalan tak terasa sudah dua bulan berlalu dari keputusan Nurdin untuk melarikan diri, perkerjaan memperbaiki rel pun tak terasa sudah sampai daerah Solo. 

Tantangan Nurdin dan kawa-kawannya yaitu memperbaiki rel di atas sungai Bengawan Solo. Butuh konsentrasi dan kehati-hatian bagi pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan di atas sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut. Terdengar berita setiap hari selalu ada pekerja yang celaka atau jatuh terbawa arus Sungai Bengawan Solo. 

Baca juga: Talia Joy Castellano; Hidup Produktif Sebelum Ajal Menjemput

Pada Malam Jumat Nurdin kembali ke tenda penampungan Romusa, Nurdin mendapatkan giliran tidur selama 2 jam. Nurdin akhirnya menyandarkan tubuhnya di batu tebing rel yang sedang dibangun. Matanya dipaksa untuk terpejam tidak bisa ia lakukan, yang terbayang adalah bagaimana dia bisa lolos dari cengkraman tangan jahat Romusha yang sangat kejam. 

Tiba-tiba terdengar rintihan pekerja yang berada tepat disampingnya, nampak jelas wajah lusuh pria usia 50an berbadan kurus kering dan sedikit membungkuk memegang perut. Nurdin mendekatinya, rupanya pria tersebut sakit namun harus segera bekerja karena sudah masuk jadwal yang telah ditentukan oleh Jepang.

Nurdin tidak tega melihat pria tersebut, bahkan terbayang dalam pikirannya wajah orang tuanya yang seusia dengan pria tersebut. Hati Nurdin tergerak dan tidak ingin membiarkan pria itu bekerja dalam kondisi sakit. Nurdin perlahan membuka bajunya, kemudian ditutupnya pria tersebut dengan banjunya. 

Perlahan Nurdin bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan mengambil Martil besar yang biasa digunakan untuk memecahkan batu yang seharusya pria itu kerjakan. Tepat jam 3 pagi Nurdin melangkahkan kakinya menuju jembatan yang sedang diperbaiki, udara dingin menusuk tubuh yang tak berbaju. Teriakan mandor Jepang memecahkan kesunyian malam yang mencekam dan dinginnya hujan gerimis.

Sampai dipinggir sungai, Nurdin berdiri beberapa saat melihat luapan air yang sedang pasang berwarna kecoklatan. Tiba-tiba "taaaarrr" cambuk bersarang dipunggungnya yang tak berbaju. Nurdin meringis sambil melihat ke belakang, nampak sedadu Jepang memegang cambuk dan menunjuk dirinya untuk segera memulai bekerja. 

Baca juga: Ezra French; Sang Multitalenta Muda

Rasa sakit dan rasa dingin sirna seketika, darah muda Nurdin mulai mendidih dan muak atas perlakuan Jepang yang semena-mena. Martil dengan bobot 5 kg diayunkannya ringan menghujam batu dipinggir Sungai. Tar-tar martil beradu dengan permukaan batu, serpihan batu kecil bertebaran memecah kesunyian malam. 

Setiap kali memukulkan Martilnya ke batu, Nurdin membahangkan nyawa pribumi melayang. Puncaknya Nurdin berbalik ke arah Serdadu Jepang yang sedang asik merokok, Martil tersebut diayunkan dan bersarang tepat di dada sedadu tersebut. Badan sedadu tersebut terhuyung ke pinggir sungai, tidak dibiarkan begitu saja Nurdin langsung mendorongnya ke sungai sehingga bersama-sama terjun kedalam luapan air keruh yang bergulung-gulung.

(bersambung....)

Post a Comment for "Nurdin; Camp Penampungan Romusha"

Berlangganan