Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nurdin; Perjalanan Perang Gerilya

Nurdin dan tentara Jepang masuk ke luapan air sungai Bengawan Solo yang berwarna kuning. Tubuh serdadu Jepang tersebut Dia peluk erat agar tidak dapat bergerak. Di dalam air dengan hitungan detik Nurdin meraih batang leher serdadu Jepang, "krrak" Ia patahkan untuk membalas sakit hati atas kekejaman tindakan mereka selama ini terhadapnya dan warga pribumi. Tubuh serdadu yang sudah tak bernyawa Dia lepaskan, Nurdin kini berjuang keras untuk menyelamatkan diri dari amukan air Sungai Bengawan Solo. 

Nurdin mulai menggerakan kakinya berenang dan untuk mencapai permukaan, luapan air dan berbagai material yang terbawa arus menghantamnya terus-menerus. Tubuh Nurdin seperti bola yang memantul dari batu satu ke batu lainnya. Usaha Nurdin untuk meraih pinggir sungai sia-sia akibat kelelahan, pada akhirnya dia pingsan dan tergulung oleh air sampai muara sungai. Kebesaran Tuhan memang diluar nalar dan logika manusia, Nurdin terbawa arus sampai ujung Sungai Bengawan Solo tepatnya di daerah Madiun dalam keadaan selamat. 

Ilustrasi Serangan Umum 1 Maret 1949, sumber: www.thinglink.com

Kondisi fisik Nurdin dengan kasat mata sudah tidak memungkinkan selamat, seluruh badannya memar, luka-luka disekujur tubuhnya, bahkan baju yang dipakainya compang-camping. Nurdin telah diselamatkan oleh penduduk setempat Madiun. Nurdin dirawat dan diobati oleh penduduk tersebut selama 2 tahun untuk mengembalikan kesehatan seperti sedia kala. Setelah kembali sehat, Nurdin tetap membulatkan tekadnya untuk berjuang gerilya membantu pejuang lokal memperjuangkan kemerdekaan. Nurdin bersama pemuda setempat bergabung dengan Gerilyawan Yogyakarta untuk melawan penjajahan Jepang. 

Akhirnya Nurdin dan sesama Gerilyawan Yogyakarta bisa bernapas lega setelah tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia telah merdeka dari penjajahan Jepang. Nurdin akhirnya memutuskan untuk pulang ke daerah Madiun kembali ke rumah orang tua angkatnya. Tiga tahun Nurdin menghirup udara segar menjadi manusia yang bebas dan mengisi waktu dengan produktif di kampung mengolah tanah menjadi seorang petani. Karena kegigihan hasil palawija yang ditanam dan perkebunannya membuahkan hasil yang baik, bisa mencukupi keluarga dan membuka lowongan pekerjaan bagi tetangga-teangganya. 

Januari 1949 akhirnya Nurdin meminang seorang gadis Yogyakarta untuk dijadikan pendamping hidupnya. Sejak menikah Nurdin menetap di Yogyakarta beserta keluarga kecilnya. Kabar gembira dari Sang Istri, tanggal 1 Februari telat datang bulan yang menandakan dia telah dipercaya oleh Tuhan untuk mendapatkan keturunan. Betapa senangnya Nurdin, 8 bulan kedepan dia akan dikaruniai seorang anak yang menjadi harapan untuk keluarga dan negaranya. 

Namun kebahagiaan Nurdin sirna pada minggu keempat bulan Februari, dia telah dipanggil oleh Divisi III/GM III untuk mambantu perjuangan melawan Belanda. Nurdin sudah dikenal dikampungnya sebagai seorang pejuang yang membantu merebut kemerdekaan. Walaupun berat hati meninggalkan keluarga dan buah hatinya yang masih dalam kandungan, Nurdin memutuskan untuk tetap berjuang melawan penjajah. Sekarang yang dihadapinya bukan Jepang melainkan Belanda yang sudah memiliki persenjataan lengkap. Berbekal keteguhan hati dan niat yang kuat, Nurdin berangkat dengan membawa perlengkapan seadanya dan sepucuk senapan menuju markas Divisi III/GM III. 

Sesampainya di Markas Divisi III Nurdin bertemu dengan Panglima yaitu Kol. Bambang Sugeng dan sesama Pejuang gerilyawan lainnya yang memiliki tekad untuk merebut Yogyakarta sepenuhnya dan membuktikan kepada Dunia Internasional bahwa TNI dan Indoneisa memiliki kekuatan dan eksistensi. Pada tanggal 1 Maret 1949 perangpun tidak dapat dielakan, sejak pagi buta tentara Belanda yang memiliki persenjataan lengkap di bawah Komandan Van Mook diserang habis-habisan oleh TNI dan para grilyawan. 

Nudrin pun merangsek dengan senjata seadanya masuk ke daerah kekuasaan Belanda, namun hal yang diluar perkiraan TNI dan Gerilyawan. Seradu Belanda dari daerah Magelang berhasil menghancurkan barikade TNI dan berhasil menerobos ke medan pertempuran Yogyakarta, alhasil posisi Nurdin terjepit di tengah-tengah pertempuran serdadu Belanda. Senapan mesin dan Tank Belanda menderu tak henti-hentinya, darah dan tubuh mulai bergelimpangan. Diperkirakan 300 orang berjatuhan terkena serangan senapan mesin dan ledakan meriam Tank Belanda. 

Nudin bersembunyi di balik tembok gedung salah satu Bank yang ada di lokasi tersebut, namun posisinyapun tidak terlepas dari amukan senapan mesin dan ledakan meriam Tank Belanda. Atap dan dinding bangunan mulai roboh, Nurdin pun harus menyelamatkan diri, apabila tidak nyawa sia-sia menjadi taruhannya terkena runtuhan bangunan. Akhirnya dengan pasrah Nurdinpun berlari menyelamatkan ke arah taman kota yang dipenuhi pepohonan, namun saat berlari senjata mesin yang menderu-deru berhasil menembus pangkal pahanya. Nurdin pun terjatuh sebelum sampai tempat aman yang dituju. Nurdin meringis kesakitan, darah merembas membasahi kaki kirinya yang terkena peluru.  Suara desingan peluru seperti pasukan lebah yang berada tepat di atas kepalanya tidak berhenti, sehingga menyulitkan untuk menyelamatkan diri.

Usaha Nurdin untuk menyelamatkan diri tidak putus sampai disitu, Dia pun mencoba merayap menuju tentara yang masih tersisa 5 orang bersembunyi di salah satu parit yang berada tepat didepannya. Jarak dirinya ke parit tempat tentara bersembunyi sekitar 10 meter, Nurdin sambil menahan rasa sakit terus merayap mendekatinya. Jarak yang dituju hanya tersisa 5 meter, usaha Nurdin semakin keras agar bisa selamat. Seluruh badan Nurdin digerakan agar segera sampai, tanpa disangka-sangka Geranat Nanas tentara Belanda menggelinding di dekat tempat persembunyian 5 orang TNI. Kurang dari 2 detik, letupanpun terdengar  memekakan telinga tubuh 5 orang TNI terpental dan sebagian hancur berkeping-keping. 

Harapan Nurdin pun mulai sirna, sejenak dia menundukan wajahnya ke tanah sambil bergumam "inilah akhir hidup saya". Tiba-tiba dia terperanjat, mukanya menengadah ke atas, matanya yang semula sayu tiba-tiba terbuka lebar. Nurdin seperti tersengat listrik bertegangan tinggi, Dia seakan-akan memiliki cadangan kekuatan yang mampu membangkitkannya dari keterpurukan dan rasa pesimis. Dia berkata dengan sedikit terbata-bata "istri dan anakku"!!!. Tubuhnya mulai digerakan merayap menuju arah parit tempat 5 orang TNI meninggal. Desingan senapan mesin dan letupan meriam Tank tidak henti-hentinya seakan-akan menertawakan, bahwa Belanda berhasil menguasai pertempuran.

Bersambung...

Post a Comment for "Nurdin; Perjalanan Perang Gerilya"

Berlangganan