Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cita-cita Anak Kekinian

Ryan merupakan siswa kelas 2 SD di daerah pinggiran Jakarta. Ryan merupakan anak yang terlahir dari keluarga sederhana, namun telah melihat berbagai perkembangan di Jakarta yang serba hedonis. Keinginannya untuk sukses mendorongnya giat belajar dan rajin membantu orang tuanya. Banyak hal yang Ia pelajari baik dari sekolah, lingkungan, dan informasi yang Ia dapatkan dari TV dan media lainnya.

Ryan sangat senang dengan informasi terkini seperti berita di koran, mendengar orangtuanya ngobrol, juga mendapatkan berbagai informasi dari TV walaupun sisa-sisa film India kesukaan orang tuanya. Berbeda dengan anak lain yang hobinya main gadget, Ryan lebih suka menonton berita yang membahas masalah politik yang berkembang di Indonesia. Ryan suka menceritakan apa yang Ia lihat dari TV kepada teman-temannya sebagai bentuk aktualisasi diri.


Mata pelajaran di sekolah yang Ia sukai yaitu mata pelajaran PPKN dan IPS, Ryan begitu antusias saat mendengarkan gurunya menjelaskan tentang Wawasan Nusantara dan Pendidikan Kewarganegaraan. Dia membayangkan suatu saat nanti Ia akan menjadi seorang pejabat sukses dengan kekayaan melimpah. Kesuksesannya dapat merubah kehidupan yang selama ini Ia jalani, bisa membeli mobil, rumah, gadget, liburan dan lain-lain yang menyenangkan.

Kehidupan Ryan tidak seberuntung anak-anak yang lain, untuk membeli sesuatu Ia harus banting tulang meminta kepada orang tuanya dan menabung sisa uang jajannya. Orang tuanya yang berprofesi sebagai buruh bangunan dan pembantu rumah tangga tidak dapat mengabulkan setiap permintaannya, melainkan harus mengatur dengan ketat keperluan rumah tangga dan kebutuhan lainnya yang rutin dikeluarkan. Beruntunglah Ryan anak tunggal yang tidak memiliki saingan dalam masalah perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Ibunya turut berjibaku membantu ekonomi keluarganya, profesi sebagai Pembantu Rumah Tangga sangat Ia syukuri karena lulusan SD sulit mencari pekerjaan. Hal ini dilakukan akibat terdorong oleh cita-citanya yang tinggi bagaimana Ryan kelak bisa sekolah dan bisa merubah kehidupannya agar tidak seperti mereka berdua yang berprofesi sebagai buruh serabutan. Sambil mengerjakan kegiatan sehari-hari Ibunya sering mempelajari kehidupan majikannya sebagai seorang yang sukses dan menjabat posisi penting di pemerintahan.

Gaya berpakaian, sikap, perilaku Ibunya berhatikan dengan seksama untuk dipelajari dan bahan pembicaraan bersama keluarganya disela-sela waktu senggang. Bahkan dari gerak-geriknya Ibu Ryan menjadikan majikannya sebagai seorang panutan (role model). Upaya Ia untuk mensosialisasikan cita-citanya kadang-kadang Ryan diajak menemaninya bekerja di rumah majikannya. Ryan pun dapat melihat sendiri kehidupan majikan Ibunya yang luar biasa hebat dengan jabatan dan kekayaan yang melimpah.

Diam-diam Ryan sendiri mempelajari siapa sebenarnya majikan Ibunya yang selama ini Ia kenal. Selain mendengar, Ryan juga rajin membaca dan menonton TV yang menayangkan sosok majikannya. Ryan akhirnya tahu persis majikan Ibunya merupakan salah satu pejabat hebat di Indonesia. Sama seperti Ibunya, akhirnya Ryan pun sepakat dengan Ibunya untuk memilih menjikannya tersebut sebagai contoh yang baik untuk masa depannya yang masih panjang. 

Berbagai data yang memuat majikannya sengaja Ryan kumpulkan, setiap berita yang di muat di koran sengaja Ia gunting untuk dijadikan kliping. Beberapa kilping sengaja Ia tempelkan di dinding kamarnya. Setiap hari Ia melihat dan sesekali membaca ulang topik yang menampilkan sosok idolanya tersebut. Ryan semaki terpukau dengan majikannya tersebut, bahkan sekarang Ryan sering datang ke rumah majikannya setelah selesai sekolah. Pada saat majikannya santai Ryan tidak segan-segan mendekatinya dan kadang-kadang mencari perhatian agar ditanya dan diberi uang jajan.

Upaya Ryan akhirnya membuahkan hasil, majikannya semakin lama-semakin akrab bahkan sudah mengenal nama dan kegemarannya makan coklat. Ryan berhasil mendekatkan diri dengan majikannya, Si Bos yang Ia idolakan akhirnya bisa dekat dan sering memberikan uang jajan kepadnya. Betapa bahagianya Ryan, uang jajan yang diberikan oleh Si Bos sangatlah banyak, biasanya Ia hanya mendapatkan Rp. 5,000,-/hari dari ibunya kali ini diberikan uang Rp. 50,000,-. Uang tersebut pun Ia bagi tiga yaitu untuk membantu orang tuanya, membeli jajanan dan menabung.

Ryan dan keluarganya begitu nyaman kerja di majikannya, kedermawanannya dan perhatian mereka begitu besar. Namun kabar buruk kini banyak beredar di TV dan surat kabar bahwa majikannya menjadi tersangka korupsi. Ryan pun tidak ketinggalan berita, Ia bahkan sengaja mencari sumber-sumber berita yang membahas majikannya tersebut. Sekian lama Ryan berusaha akhirnya Ia menemukan halaman Koran yang memuat majikannya sedang digandeng oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengenakan seragam orange.

Foto ini pun tidak luput Ia gunting dan tempelkan di dinding kamarnya. Pertanyaan besar kenapa semakin lama semakin terkenal saja Si Bos tersebut. Seperti biasanya Ryan dan Ibunya tetap menjalankan tugas membersihkan dan rapi-rapi di rumah majikannya. Sekalipun pemberitaan gencar dimana-mana, perilaku Si Bos tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Si Bos tetap tersenyum ramah, uang jajan tetap mengalir dan tidak ada tanda-tanda Ia akan mendekam di panjara.

Suatu saat Ryan pun memberanikan diri untuk mendekati Si Bos yang sedang santai. Ia menanyakan pemeritaan yang ada di TV dan surat kabar, apakah benar Si Bos itu sebagai seorang Koruptor? Si Bos menjelaskan kepada Ryan bahwa dirinya hanya mendapat fitnah dan kasusnya ini adalah kesalah fahaman saja. Si Bos hanya wajib lapor dan beberapa jam mengenakan baju warna orange saja. Ryan pun akhirnya yakin tidak ada masalah yang terjadi pada Si Bos dan Ia pun bersyukur uang jajannya tidak akan berhenti begitu saja.

Kini Ryan merasa senang, unek-uneknya telah terjawab tidak ada masalah dengan Si Bos. Ryan pun semakin semangat untuk menjadi orang sukses seperti yang Ia lihat sehari-hari kehidupan Bosnya. Dada dibusungkan, langkah tegap, tatapan lurus ke depan, bibir sedikit dilengkungkan ---- Ryan berjalan penuh percaya diri ke sekolah. Ryan begitu bangga memiliki role model yang luar biasa, Ia bahkan cerita kepada teman-temannya bahwa senang dengan Si Bos yang suka memberinya uang jajan.

Sampai suatu saat di sekolah Ryan ada acara menjelaskan cita-cita, Ryan dan teman-temannya menyambut dengan senang sekali karena Ia membayangkan masa depan yang menjadi impiannya. Ibu Guru mulai memanggil siswa satu-persatu sesuai dengan urutan absensi. Murid yang berinisial “A” telah lebih dahulu dipanggil oleh Ibu Guru untuk menjelaskan cita-cita mereka, ada yang ingin menjadi Doker, Guru, bahkan ada yang ingin menjadi Youtuber.

Cita-cita mereka hebat sesuai dengan apa yang dilihat, didengar dan dipelajari dalam kehidupannya. Kini giliran Ryan yang harus tampil di depan, seperti biasanya setiap siswa yang menyampaikan cita-citanya diberikan semangat berupa tepuk tangan dan sorak dari teman-temannya. Ryan sedikit menyombongkan diri melangkah dengan gagah, dada dibusungkan, dan bibir sedikit ditarik ala mafia LA. Berikut percakapan Ibu Guru dan Ryan.

-------------------------------------------------------------------------------------
Ibu Guru: Sekarang Giliran Ryan, cita-citamu apa Nak?

Ryan: dengan suara lantang ---- Cita-cita saya ingin menjadi “KORUPTOR”!
-------------------------------------------------------------------------------------
Tanpa diberikan aba-aba seluruh kelas menjadi riuh, tepuk tangan dan sorak pun gemuruh. Ibu Guru pun tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba suara menjadi hening, Ibu Guru mengepalkan tangan tanda anak-anak harus berhenti bersorak dan berteriak. Bibir Ibu Guru yang tadinya tertawa lebar level 5 perlahan-lahan menurun ke level 1. Tatapannya yang kosong memandang sosok Ryan yang masih terpaku di depan kelas dengan perasaan sedikit bersalah. Ibu Guru lantas mendekat dan matanya yang nanar masih fokus ke arah Ryan berdiri. Kemudian tangannya mulai menyentuh pundak Ryan sambil tersenyum menandakan Ia sebagai ibu yang bijak.

-------------------------------------------------------------------------------------
Ibu Guru: Wah Nak Ryan ini memiliki cita-cita yang berbeda ya, Ibu sampai kaget. Kira-kira apa alasan Nak Ryan memilih untuk menjadi Koruptor?

Ryan: Koruptor itu enak Bu uangnya banyak bisa membeli apapun, terkenal di TV dan surat kabar, kalu ada masalah hadapi dengan senyum dan hebatnya sulit dijerat oleh hukum!

Ibu Guru: Kenapa gak memilih pekerjaan lain Nak? Seperti Ibu menjadi Guru, Pengusaha, atau menjadi Dokter?

Ryan: Kalau jadi guru uangnya gak banyak, pengusaha harus punya modal banyak, kalu menjadi Dokter sekolahnya itu lama Bu!

Ibu Guru: Terimakasih Nak, nanti Ibu Bicara dengan Mamahnya ya! Sekarang Nak Ryan duduk kembali ya!
-------------------------------------------------------------------------------------

Ibu Guru dan Ryan akhirnya kembali ke tempat duduk. Anak-anak yang belum kebagian tampil melanjutkan menceritakan cita-citanya setelah Ryan. Kelas selesai hari itu, Ryan dan Ibu Guru pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Ibu Guru termenung dan sangat kaget dengan pernyataan Ryan dengan cita-citanya ingin menjadi “KORUPTOR”. Dunia terasa sempit, Ibu Guru merasa gagal menjadi guru --- dunia sudah terbalik, perilaku negatif malah dianggap hebat oleh anak-anak. Kepolosan anak ini terlihat sepele namun bagi dirinya merupakan ujian yang sangat berat karena mencerminkan masa depan generasi penerus bangsa.

Bu Guru pun pusing memikirkan masalah yang dihadapinya, banyak faktor yang menyebabkan anak-anak dan masyarakat memiliki pemikiran tersebut. Sambil menggerutu kecewa Ibu Guru menutup pintu rumahnya sambil bergumam --- “Rajam saja para koruptor agar tidak menjadi idola anak-anak polos seperti Ryan”. 

Post a Comment for "Cita-cita Anak Kekinian"

Berlangganan