Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kekuatan Doa dan Ketulusan Keluarga

Rudi merupakan pengusaha sukses di bidang usaha perkebunan dan tambang. Namun malang telah menghampirinya. Rudi mengalami kecelakaan parah di Jalan Tol Jakarta, saat ini kondisi Rudi sedang koma di rumah sakit. Berdasarkan diagnosa dokter bahwa ada pendarahan di otak yang sangat rentan terhadap keselamatan jiwanya.

Seluruh orang yang melihat tubuh Rudi pastinya sangat terpukul, setelah melihat kondisi fisiknya yang luka parah sedikit harapan untuk bisa pulih kembali seperti sedia kala. Di alam ruh Rudi sedang berhadapan dengan malaikat yang datang kepadanya setiap hari selama koma. Malaikat tersebut membawa catatan hidup Rudi mulai dari kecil sampai saat kecelakaan terjadi. Rudi pun bediskusi dengan malaikat tersebut sebelum ajal menjemput.

Ilustrasi, sumber: https://commons.wikimedia.org
Malaikat tersebut mengatakan bahwa Ia akan segera mencabut nyawa Rudi karena sudah tidak mungkin hidup, seluruh badannya hancur dan banyak kebocoran darah di otaknya. Rudi sedih dan sangat terpukul, menangis sejadi-jadinya setelah mengetahui bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Kesedihan Rudi secara fisik pun terlihat oleh orang yang menjaganya di rumah sakit, sekalipun badannya terbujur kaku namun dari sudut matanya mengeluarkan air mata.

Rudi sangat sedih dan meminta malaikat untuk mengurungkan niat mencabut nyawanya. Rudi berjanji akan memenuhi seluruh permintaan malaikat asal ia bisa kembali sehat seperti sedia kala. Malaikatpun memberikan kesempatan kepadanya dengan satu syarat bahwa ia harus mengumpulkan 100 doa yang ikhlas sebelum jam 12.00 WIB. Rudi begitu senang karena permintaan malaikat itu dianggapnya mudah dan dapat segera ia penuhi. Rudi menganggap bahwa doa 100 orang akan mudah ia dapatkan karena ia merupakan seorang Presiden Direktur perusahaan multinasional yang memiliki karyawan 10.000 orang. Dari jumlah tersebut ia meyakini banyak karyawan yang mendoakannya.

Malaikat pun meninggalkan Rudi tepat pukul 10.00 WIB. Rudi merasa lebih tenang dan harapanya untuk hidup semakin kuat. Tak lama berselang tepat pukul 10.30 WIB, malaikat kembali datang dengan membawa buku catatan doa yang telah ia kumpulkan selama 30 menit. Sambil menghampiri Rudi, malaikat menunjukan daftar orang yang mendokan Rudi. Betapa kagetnya Rudi dalam catatan tersebut sama sekali tidak ada orang yang mau mendoakannya. Rudi bertanya kepada malaikat: "Kenapa tidak ada orang yang mendoakannya?".

Malaikat menjawab, "Ya memang tidak ada orang yang mendoakanmu!". "Masih ingatkah kamu saat masih sehat di dunia, kamu menjadi pimpinan suatu perusahaan namun kamu menyalahkan gunakan wewenang seperti bertindak arogansi, mengambil uang yang bukan haknya, memecat orang yang tidak bersalah, dan berhubungan asmara dengan karyawan sekantor yang tidak sepantasnya!". "Masih ada kesempatan 1.5 jam lagi sebelum jam 12.00 WIB semoga masih ada orang yang mau mendoakanmu!". Malaikat pun bergegas meninggalkan Rudi.

Rudi kembali menangis dan membayangkan seluruh perbuatannya selama ia hidup. Ia dengan sadar mengakui bahwa selama menjadi pimpinan perusahaan banyak melakukan kesalahan. 10.000 karyawan tidak menjamin dapat mendoakannya dengan ikhlas, karena mereka pernah diperlakukan tidak enak dan bekerja dengan terpaksa. Seluruh rekan-rekan kerjanya pun melakukan hal sama, berbuat baik selama hidup hanya karena menghargai dirinya sebagai atasan. 

Waktu terus berputar, jam menunjukan pukul 11.00 WIB. Malaikat pun kembali datang kepada dirinya dengan membawa buku catatan orang yang mendoakannya. Kini Rudi tidak seoptimis sebelumnya, bahkan cenderung pesimis setelah melihat buku catatan sebelumnya tidak ada orang yang mau mendoakannya. Malaikat mendekat dan memperlihatkan catatan dari jam 10.30 - 11.00 WIB. Betapa kegetnya Rudi, hasilnya pun hanya ada 2 orang yang mendoakan dirinya dengan tulus.

Rudi pun kembali menangis tersedu-sedu, sedih melihat kenyataan bahwa begitu sulitnya mendapatkan doa yang tulus. Kemudian Rudi bertanya kepada malaikat, "Sudah satu jam berjalan hanya ada dua orang yang mendoakan saya, siapakah mereka yang berbuat tulus tersebut?". Malaikat menjawab: "Ia merupakan orang tuamu!". Rudi merasa aneh ada apa dengan orang tuanya, kok baru sekarang mendoakanya. Rudi kemudian bertanya lagi kepada malaikat, "Mengapa baru sekarang orang tuaku mendoakan saya?". Malaikat akhirnya membuka buka yang dia pegang, "Coba kamu perhatikan ini!".

Rudi melihat buku tersebut layaknya komputer yang menunjukan perilakukan kepada kedua orang tuanya. Rudi pun kembali menangis, betapa kasarnya dia perlakukan kedua orang tuanya. Selain daripada itu karena saking sibuk bekerja orang tuanya jarang sekali dijenguk atau menelepon hanya sekedar menanyakan kabar. Dalam catatan tersebut menunjukan orang tuanya sangat sedih dan merasa kehilangan dirinya. Orang tuanya sakit hati akibat diperlakukan kurang baik oleh Rudi. Malaikat pun menambahkan cerita yang nampak dalam catatan tersebut. "Awalnya orang tuamu tidak mau mendoakan dirimu, namun karena melihat pemberitaan yang gencar di TV dan surat kabar mereka pun membuka hati untuk mendoakan mu!".

Malaikat pun kembali meninggalkan Rudi sendirian terbaring di tempat tidur rumah sakit. Rudi tidak henti-hentinya menangis meratapi apa yang selama ini telah ia perbuat kepada orang-orang terdekatnya. Semakin terbukalah hatinya ternyata tanpa disadari dan menganggap dirinya salah  sehingga banyak orang di sekelilingnya tersakiti. 

Waktu menunjukan pukul 11.30 WIB malaikat kembali menghampirinya dengan membawa buku catatan doa seperti biasanya. Rudi pun kembali bersemangat untuk melihat sudah berapa orang yang telah mendoakannya di sisa waktu 30 menit menjelang ajalnya. Rudi pun terperanjat, kaget melihat hasil yang ditunjukan oleh malaikat tersebut. Selama 30 menit hanya bertambah 3 orang. Rudi pun kembali menangis tersedu-sedu. Kenapa kok tidak banyak orang yang mendoakannya!.

Seperti sebelumnya Rudi kembali bertanya kepada malaikat, "Siapakah mereka yang mendoakan saya?". Tanpa basa-basi malaikat membuka cuku catatannya. Rudi melihat tiga orang tersebut terdiri dari seorang perempuan paruh baya dan dua anak-anak perempuan usia belasan. Mereka begitu khusu mendoakan dirinya, Rudi mencoba melihat lebih dekat kepada buku catatan doanya untuk melihat lebih jelas siapakah mereka. Rudi baru menyadari bahwa perempuan yang sedang berdoa tersebut merupakan istri tua dan kedua anaknya. 

Rudi kembali bertanya kepada malaikat, "Kenapa istri dan anak-anakku baru mendoakan saya sekarang?". Malaikat menjawab, "Sama seperti yang kamu lakukan kepada orang tuamu. Kamu telah mengabaikannya, tidak memberikan nafkah lahir dan batin. Kamu lebih memilih teman kantormu untuk dijadikan istri kedua karena dianggap lebih cantik dan mendukung karir besarmu".

Rudi, "Mengapa ia mau melakukan doa yang begitu ikhlas sehingga bisa masuk ke dalam buku catatanku?" Malaikat menjawab, "Walaupun mereka tersakiti, mereka menyadari bahwa kamu adalah bagian dari kehidupannya, tidak ada orang dapat menggantikan posisi ayah dari anak-anaknya. Selama ini mereka selalu mendukung setiap karirmu, mereka berkorban tanpa pamrih". Rudi pun kembali bertanya, "Bagaimana dengan istri kedua saya?", malaikat langsung membuka buku catatan. Rudi melihat seorang perempuan yang sedang asik bercakap-cakap dengan seorang pemuda tampan seusianya. Rudi pun kembali menangis, ia begitu menyesal telah mengabaikan istri tua beserta anak-anaknya yang begitu tulus mendukung dan mendoakannya.

Malaikat pun bergegas meninggalkan Rudi yang sedang menangis tersedu-sedu. Sebelum meninggalkan rudi malaikat mengingatkannya, "Waktu kamu hanya tersisa 30 menit lagi, jangan terlalu banyak berharap bisa selamat karena orang yang mendoakan kamu baru 7 orang!". Rudi pun hanya menganggukan kepalanya tanpa ada ucapan sedikit pun yang keluar dari mulutnya, karena ia menyadari betapa sulitnya mendapatkan doa tulus dari orang-orang yang ia kenal. 

Lain dari biasanya, kini malaikat datang lebih awal 10 menit dengan membawa catatan doa Rudi. Rudi pun dengan pesimis hanya membuka mata sedikit untuk melihat kedatangan malaikat. Kini giliran malaikat yang lebih dahulu membuka pembicaraan. "Rudi ini catatanmu sebelum aku mencabut nyawamu!". Malaikat kemudian membuka buku catatan doa Rudi. Rudi terperanjat  kaget melihat begitu banyaknya orang yang telah mendoakannya. Setelah diperhatikan sudah ada 98 orang yang masuk ke dalam buku catatan doanya. Butuh 2 orang lagi untuk membatalkan rencana malaikat mencabut nyawanya.  

Sambil terkaget-kaget ia pun bertanya kepda malaikat, "Mengapa sekarang banyak orang yang mendoakan saya? Siapakah mereka?". Malaikat menjawab sambil menunjukan gambar pada catatan doanya, "Ini dia --- kamu perhatikan dengan seksama!". Rudi melihat anak-anak kecil yang sedang berdoa dengan khusu di sebuah ruangan kelas yang sederhana. Semakin dekat mukanya ke dalam buku catatan, semakin jelas nampak wajah yang ia kenal. Mereka merupakan anak-anak yatim pada yayasan yang selama ini ia santuni. Malaikat berkata kepada Rudi, "Kamu masih ingat? Mereka telah mendengar kabar bahwa kamu sedang sakit. Mereka mendokan kamu agar bisa sehat, karena mereka sangat menggantungkan hidupnya dari kamu". 

Rudi kembali menangis tersedu-sedu, tanpa dikir ada kebaikan dari mereka yang selama ini tidak masuk di dalam perhitungannya. Selama ini Rudi lakukan menyantuni orang-orang miskin dan yatim-piatu hanya untuk mendapatkan popularitas dan perhatian dari penguasa. Namun apa yang ia dapatkan merupakan balasan jasa yang begitu tulus dan ikhlas dari mereka. Rudi sesaat merenung, lantas melihat jarum jam yang terus berputar menuju jam 12.00 WIB. Rudi hanya pasrah untuk dicabut nyawanya karena tidak mempu memenuhi syarat dari malaikat untuk mendapatkan 100 doa terbaik bagi dirinya.

Sumber: http://www.gregorydickowonline.com

Waktupun terus berjalan, malaikat sudah mulai mendekat dan bersiap-siap untuk mencabut nyawa Rudi. Tiba-tiba malaikat berhenti beberapa saat sebelum tiba di depan muka Rudi. Malaikat memegang tangan Rudi dan berbisik kepadanya, "Kamu telah berhasil diselamatkan oleh dua orang ini!". Malaikat menunjukan catatan doa yang sudah lengkap 100 orang yang mendoakan Rudi dengan ikhlas. Betapa terkejutnya Rudi, selama ini ia sudah pasrah dan ikhlas nyawanya akan dicabut oleh malaikat.

Rudi melihat catatan doa yang dipegang oleh malaikat, nampaklah wajah perempuan tua yang sedang khusu berdoa. Rudi ingat betul bahwa mereka adalah gurunya saat ia di bangku SD. Tanpa disadari air matanya mengalir deras, betapa mulianya guru yang selama ini tidak pernah dia perhatikan mampu memberikan doa tulus kepadanya. Rudi pun semakin sadar bahwa tidak semua orang yang dianggapnya baik benar-benar baik, dan sebaliknya mereka yang diangga biasa saja bahkan dianggap buruk dapat memberikan kebaikan.

Rudi akhirnya bersimpug di hadapan malaikat, bersyukur atas kesempatan yang diberikan untuk menikmati sisa hidupnya. Rudi berjanji akan hidup lebih baik, membantu sesama yang membutuhkan,  dan menyayangi mereka yang benar-benar menyayangi dirinya.

=============================

Di dunia ini sangat sulit membedakan mana orang yang benar-benat ikhlas dan mereka yang tidak. Kadang kita bertindak mengikuti hawa nafsu sehingga banyak orang yang tersakiti dan dirugikan. Pengorbanan kita kadang hanya untuk mendapatkan perhatian, papularitas, dan tujuan tertentu untuk kepentingan pribadi bukan berdasarkan kehikhlasan. Balas jasa terbaik yang tidak ada batasnya yaitu kekuatan doa.

Renungkanlah setiap tindakan yang telah kita lakukan, apakah banyak hal positif atau sebaliknya. Usahakan setiap hari kita memupuk timbangan positif sebagai bekal untuk menghadap Sang Pencipta. Orang yang tulus dan memiliki doa kuat adalah orang tua kita, istri/suami, anak dan orang-orang terdekat kita. Maka jagalah mereka baik-baik agar kehidupan kita lebih baik lagi.

Semoga kita semua merupakan orang-orang yang bermanfaat. Aamiin.

Post a Comment for "Kekuatan Doa dan Ketulusan Keluarga"

Berlangganan